BAB 1
21 Oktober 2000 adalah tanggal dimana banyakorang datang ke rumahku. Mereka datang bukan untuk bertamu, melainkan mengirimkan do'a dan surat yasin untuk ayah dan ibuku. Banyak sekali orang yang melayat pada saat itu, dan banyak orang yang berkata kepadaku dengan perkataan yang sama.
"Irgi, yang sabar ya, ikhlasin kepergian ayah dan ibumu" pada hari itu, aku mendengar perkataan tersebut hampir seratus kali.
Aku muak mendengarnya, ingin rasanya teriak, tapi tidak bisa karena suaraku telah habis oleh tangis.
Saat orang-orang mulai meninggalkan rumahku untuk mengantarkan kedua orang tuaku ke tempat peristirahatan terakhirnya, aku tidak diperkenankan untuk ikut. Karena memang kondisiku tidak memungkinkan.
Satu hari sebelumnya kami mengalami kecelakaan. Mobil truk yang berjalan ugal-ugalan menyerempet mobil kami hingga terpental.
Satu hari sebelumnya kami mengalami kecelakaan. Mobil truk yang berjalan ugal-ugalan menyerempet mobil kami hingga terpental.
Ayahku meninggal di tempat, ibuku meninggal kerika perjalanan ke rumah sakit, dan sialnya aku tidak ikut bersama mereka. Aku ditinggal sendirian.
Aku selamat dengan banyak luka di tubuhku. Selain itu, aku mengalami patah kaki sebelah kiri dan gangguan penglihatan sementara.
•••••
Semenjak orang tuaku pergi aku tinggal bersama paman ata dan bibi hesti. Rumah orang tuaku disewakan ke orang lain. Seharusnya rumah itu dijual, tapi aku tidak setuju.
Paman dan bibi menggangap ku sebagai anak nya sendiri. Bibi tidak punya anak, dan memang tidak akan pernah. Karena rahim bibi telah diangkat karena suatu penyakit.
Bibi bercerita kepadaku, katanya, sebelum ada aku bibi pernah menggangap anak tetangganya seperti anaknya sendiri. Bibi suka membelikan dia makanan, boneka, dan boneka. Namanya Uma Natalya Putri.
Sore itu, aku diajak keluar rumah oleh bibiku. Aku naik kursi roda dan bibi yang mendorongnya. Dia mengajakku ke rumah tentangganya. Rumahnya tepat di depan rumah bibi.
Sore itu adalah sore yang indah. Sore dimana aku bertemu dengan gadis kecil yang memperkenalkan dirinya terlebih dahulu dengan mengulurkan tangan kepadaku.
Namanya uma, nama yang lucu bukan? Waktu itu aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena penglihatan ku masih kabur akibat kecelakaan.
Dia mengajakku bermain, tapi kala itu aku tidak menikmatinya. Aku sedang tidak mood, karena perasaanku masih penuh duka.
"Irgi kamu tau nggk? Aku suka bikin orang tersenyum, percaya deh" ucap uma dengn suara imut nya.
Aku hanya menanggapi ucapan uma hanya dengan lirikan, mengisyaratkan bahwa aku sedikit percaya dengan ucapan nya.
"Kata bibi hesti, kamu punya masalah pengelihatan ya?" tanya uma.
"I..iya tapi, cuma seemntara aja kok"
"Kalau gitu, selama kamu punya masalah penglihatan, izinkan aku untuk menjadi matamu ya? aku janji aku akan selalu menuntunmu ke tempat yang indah. Kamu mau kan?"
Sepertinya, saat uma bicara begitu aku tersipu dan sedikit tersenyum. Pipiku memerah karena perkataannya. Benar-benar gadis kecil yang lucu.
"Asyik, irgi benar tersenyum kan? Aku suka bikin orang tersenyum hehehe" ucap uma dengan sangat bahagia. Dia seperti sangat puas saat aku menunjukkan senyumku.
•••••
Satu bulan kemudian, patah kaki yang aku alami mulai membaik. Aku mulai belum berjalan, belajar dengan penglihatan yang kurang jelas.
Tapi, untungnya ada uma yang bersedia menjadi mataku. Dia selalu merangkulku, menuntunku, dan membicarakan hal yang indah di telingaku.
Aku sangat bersyukur bisa bertemu dan mengenal uma. Gadis 4 tahun yang berhati malaikat.
Ternyata, ungkapan-ungkapan yang pernah aku baca, ada benarnya. Akan ada pelangi setelah hujan, akan ada tawa setelah air mata, akan ada kebahagiaan setelah kesulitan, dan ada hikmah di balik cobaan.
BAB 2
"Bibi, aku ingin melihat dunia dengan jelas" pinta irgi sewaktu dia masih duduk dikelas 6 SD.
Irgi bersekolah di sekolah luar biasa atau yang dijelas dengan SLB. Irgi di sekolahkan di sekolah tersebut oleh bibinya bukan tanpa alasan. Bibinya tidak mau jika irgi menjadi bahan ledekan jika nanti dia di sekolahkan di sekolah umum.
Suatu hari, irgi berbicara kepada bibinya kalau dia ingin segera dioperasi. Dia ingin sekali melihat dunia, melihat orang-orang, dan melihat sahabat kesayangannya yang jelas. Karena, selama hampir delapan tahun ini, semua yang dilihatnya hanyalah butiran buram.
"Bibi, aku sudah menabung cukup banyak, tapi, aku tidak tau uang tabunganku cukup atau tidak untuk melakukan operasu mataku" kata irgi.
"Bibi, bawa aku ke rumah sakit, operasi mataku, aku ingin sekolah di sekolah normal, aku ingin berteman dengan anak-anak normal. Kumohon bibi"
Irgi mengatakan itu dengan suara yang hampir menangis, membuat bibi hesti tidak tega mendengarnya.
"Iya nanti, sehabis kamu ujian nasional, paman sama bibi akan membawa kamu ke rumah sakit. Dan dengan izin tuhan, mudah-mudahan kamu bisa melihat dengan jelas lagi setelah di operasi" balas bibi hesti untuk menghibur hati irgi. "Dan simpan saja ya uang tabunganmu"
"Asyikk, sebentar lagi aku bisa melihat"
•••••
Operasi mata telah selesai dilakukan. Saatnya untuk membuka perban yang membalut kedua mata irgi. Dokter membuka perban itu secara perlahan.
Dan, saat perban itu sudah benar-benar terbuka, yang pertama kali irgi lihat dengan jelas adalah dua ciptaan tuhan yang paling hebat di matanya.
"Uma, bibi" kata irgi seraya tersenyum bahagia.
"Irgi" panggil bibi hesti dan kemudian dia memeluk irgi dengan erat.
Bibi hesti tak kuasa menahan air matanya. Dia begitu terharu melihat irgi yang kini sudah bisa melihat dengan jelas.
"Bibi, terimakasih" ucap irgi sambil meneteskan air mata di pelukan bibi hesti.
"Selamat ya irgi" kata uma dengan senyum manisnya.
"Uma, kamu cantik"
"Kamu, baru bisa melihat dengan jelas aja udah ngegombal" omel bibi hesti dengan sedikit senyuman.
"Hahaha" irgi tertawa.
BAB 3
Ini adalah kisah ketika irgi dan uma masih di kelas 3 SMP.
Waktu itu, di minggu pagi yang cerah, uma mengajak irgi untuk bersepeda berkeliling kompleks perumahan. Irgi tidak punya sepeda, jadi nanti irgi akan dibonceng oleh uma di jok belakang sepeda mininya.
Uma sangat suka bersepeda, menurutnya bersepeda adalah salah satu cara terbaik untuk membentuk lekuk tubuhnya agar terlihat seperti wanita ideal. Dan irgi setuju.
"Aku aja yang bonceng kamu" kata irgi.
"Yaudah, pelan-pelan ya? Kalau ada polisi tidur direm, jangan dibangunin"
"Iya bawell" jawab irgi dengan masa bodo.
Irgi mulai mengayuh sepeda, berjalan dengan santai sambil menikmati angin pagi yang begitu segar. Selagi irgi mengayuh, una terus mengajak bicara agar suasana diantara mereka tidak terasa sepi.
"Irgi"
"Hmm" sahut irgi sambil tetap fokus ke jalan.
"Aku boleh punya pacar enggak?" tanya uma yang bermaksud ingin menggoda irgi.
"Kamu kodein aku?"
"Dih bukan, ge-er banget sih. Aku kan nanya sama kamu, bukan kode"
"Oh kirain kode"
"Gimana boleh nggak?" uma bertanya lagi sambil senyum-senyum.
"Emangnya ada yang suka sama kamu?"
"Banyakk, kalau aku on facebook pasti ada banyak cowok yang ngechat aku" jawab uma.
"Ohh"
"Waktu itu, aku pernah upload foto bareng sama kamu, terus cowok-cowok pada tanya di komentar, itu pacar kamu?"
Belum selesai uma menyelesaikan pembicaraan, dengan sangat penasaran irgi memotong, "terus kamu jawab apa?"
"Ihh kepo" ledek uma.
"Aku ngebut ya?"
"Hahaha ngambek" uma tertawa. "Terus aku jawab bukan dan cowok-cowok itu ngebales oh kirain pacar"
"Harusnya jawab iya aja"
"Dih biar apa?"
"Biar mereka semua nyerah buat dapetin kamu, terus sisa aku deh. Otomatis aku yang menang"
"Kamu mah emang udah menang dari dulu, tapi sebagai sahabat" rayu uma dan kemudian dia melingkarkan lengan kanannya dipinggang irgi. "Aku sayang kamu" lanjutnya dengan suara yang pelan.
"Ngapain kamu lingkarkan lengan dipinggang aku? Aku kan enggak ngebut"
Uma tidak menjawab, dia mengabaikan pertanyaan irgi. Pembicaraan mereka selesai. Irgi tetap fokus menunggangi sepeda. Dan uma fokus menikmati sejuknya udara pagi dan segarnya angin yang meniup rambut indahnya.
•••••
20 menit kemudian, irgi lelah menggayuh sepeda, dan dia meminta uma untuk menggantikannya.
"Dikit lagi sampek di rumah juga" ucap uma seraya menukar posisi dengan irgi.
Sepeda kembali berjalan dan irgi mulai modus di jok belakang.
Irgi membalas perlakuan uma, dia juga mau melingkarkan lengannya di pinggang uma.
"Ehh" kata uma kaget "gelii"
"Gantian"
"Aku mah cewek, kamu nggak boleh pegang sembarangan, nggak enak juga dilihat orang-orang"
"Tapi aku enak"
"Kalau kamu cabul aku turunin nih" sergah uma.
"Iya iya maaf" irgi melepaskan pegangannya dari pinggang uma "ugh, dasar nggak asik"
"Kalau kamu rasa nggak asik, cari sahabat yang cabe-cabean aja sana biar bisa di pegang-pegang"
"Ihh, bukan gitu uma" ucap irgi dengan nada bersalah. Karena dia tau kalau uma sudah mulai ngambek.
"Kenapa sih cewek cepet banget ngambeknya?" Batin irgi.
"Aku boleh punya pacar enggak?" tanya uma yang bermaksud ingin menggoda irgi.
"Kamu kodein aku?"
"Dih bukan, ge-er banget sih. Aku kan nanya sama kamu, bukan kode"
"Oh kirain kode"
"Gimana boleh nggak?" uma bertanya lagi sambil senyum-senyum.
"Emangnya ada yang suka sama kamu?"
"Banyakk, kalau aku on facebook pasti ada banyak cowok yang ngechat aku" jawab uma.
"Ohh"
"Waktu itu, aku pernah upload foto bareng sama kamu, terus cowok-cowok pada tanya di komentar, itu pacar kamu?"
Belum selesai uma menyelesaikan pembicaraan, dengan sangat penasaran irgi memotong, "terus kamu jawab apa?"
"Ihh kepo" ledek uma.
"Aku ngebut ya?"
"Hahaha ngambek" uma tertawa. "Terus aku jawab bukan dan cowok-cowok itu ngebales oh kirain pacar"
"Harusnya jawab iya aja"
"Dih biar apa?"
"Biar mereka semua nyerah buat dapetin kamu, terus sisa aku deh. Otomatis aku yang menang"
"Kamu mah emang udah menang dari dulu, tapi sebagai sahabat" rayu uma dan kemudian dia melingkarkan lengan kanannya dipinggang irgi. "Aku sayang kamu" lanjutnya dengan suara yang pelan.
"Ngapain kamu lingkarkan lengan dipinggang aku? Aku kan enggak ngebut"
Uma tidak menjawab, dia mengabaikan pertanyaan irgi. Pembicaraan mereka selesai. Irgi tetap fokus menunggangi sepeda. Dan uma fokus menikmati sejuknya udara pagi dan segarnya angin yang meniup rambut indahnya.
•••••
20 menit kemudian, irgi lelah menggayuh sepeda, dan dia meminta uma untuk menggantikannya.
"Dikit lagi sampek di rumah juga" ucap uma seraya menukar posisi dengan irgi.
Sepeda kembali berjalan dan irgi mulai modus di jok belakang.
Irgi membalas perlakuan uma, dia juga mau melingkarkan lengannya di pinggang uma.
"Ehh" kata uma kaget "gelii"
"Gantian"
"Aku mah cewek, kamu nggak boleh pegang sembarangan, nggak enak juga dilihat orang-orang"
"Tapi aku enak"
"Kalau kamu cabul aku turunin nih" sergah uma.
"Iya iya maaf" irgi melepaskan pegangannya dari pinggang uma "ugh, dasar nggak asik"
"Kalau kamu rasa nggak asik, cari sahabat yang cabe-cabean aja sana biar bisa di pegang-pegang"
"Ihh, bukan gitu uma" ucap irgi dengan nada bersalah. Karena dia tau kalau uma sudah mulai ngambek.
"Kenapa sih cewek cepet banget ngambeknya?" Batin irgi.
BAB 4
Dari taman kanak-kanak, irgi dan uma tak pernah satu sekolah. Dan sekarang, mereka harus masuk sekolah menengah ke atas.
Bibi hesti merasa kalau waktu berlangsung begitu cepat, tak terasa keponakan yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri telah masuk jenjang akhir pendidikan formal.
Di SMA ini, akhirnya irgi merasakan satu sekolah dengan uma, bahkan satu kelas, dan lebih dari itu mereka satu meja.
Hari ini adalah hari pertama mereka di sekolah menengah ke atas, dan mereka belum mengenal seorang pun di kelas baru.
"Aku mau duduk sama cewek" kata uma.
"Emangnya kalau sama aku kenapa?" Tanya irgi.
"Bosen" jawabnya. "Dirumah sama kamu, masa di sekolah sama kamu lagi"
"Aku ngebosenin? Parah. Kata- kata kamu nyakitin"
"Yaelah cowok kok baperan" uma tidak perduli dengan irgi kali ini. Mungkin, ini yang pertama kali.
"Kamu berubah uma" ucap irgi seraya bangun dari tempat duduknya.
Irgi pindah, namun, dia dia duduk tak jauh dari uma. Posisi duduknya tepat dibelakang uma.
"Aku disini" kata irgi dan dia mulai duduk ditempat barunya.
"Yaudah" jawab uma. Tetapi setelah itu, dia mendekat ke irgi dan berkata "kalau disekolah kita ngomongnya pakek lo-gue aja"
Uma duduk sendiri, belum ada yang mengisi kursi kosong disampingnya. Berbeda dengan irgi, dia duduk dengan seorang pria berkacamata dengan hidung mancung dan berbibir tipis. Tampangnya lumayan tampan dan terlihat seperti orang yang pintar.
"Dari SMP mana?" Tanya irgi basa-basi.
"SMP nusa putra" jawabnya.
Jawaban lelaki itu begitu singkat. Pandangan pertama irgi mengenai orang yang duduk di sampingnya adalah dia orang yang awet bicara, dingin dan tertutup.
"Lo enggak mau ngobrol?" Irgi bertanya lagi. Dia berusaha mengajak orang yang duduk di sampingnya untuk bicara lebih banyak.
Lelaki itu hanya menanggapi dengan lirikan sinis. Sepertinya, dia merasa terganggu.
"Lo lagi kenapa? Ada masalah? Atau lagi kehilangan seseorang? Sifat lo kaya gue waktu kecil. Tapi, tenang aja di depan lo sekarang ada cewek yang hobinya itu ngebuat orang lain tersenyum" irgi berusaha lebih dekat dengan orang itu. Dia mulai berbicara, berbicara urusan hati.
Lelaki itu masih tidak menjawab, dia malah bangun dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan irgi.
"Siapa nama lelaki di samping lo?" Tanya uma pakai lo dan ini untuk pertama kalinya dia bicara dengan irgi menggunakan bahasa seperti itu.
"Kok kayaknya agak kasar ya kalau kamu ngomong pakai lo?"
"Udah biasain aja kalau di sekolah. Nanti kalau di rumah kita pakek aku kamu lagi kok" jawab uma seraya tersenyum.
"Akhirnya kamu senyum sama aku..ehh...gue" balas irgi. "Aneh ya? Nggam bisa cara ngomongnya hehe"
"Siapa nama cowok tadi?" Uma bertanya lagi.
"Nggak tau, dingin banget dia. Lo suka?"
"Kalau suka kenapa? Cemburu?"
"Hehe" irgi hanya menjawab dengan cengiran, entah maksutnya apa.
10 menit kemudian, lelaki itu kembali dan duduk di tempatnya sambil berkata, "akhirnya lega"
"Lega kenapa?" Tanya irgi.
"Biasa panggilan alam" jawabnya sambil tersenyum.
"Oh, lo tadi nahan boker? Gue kira lo orangnya judes dan nggak nyaman sama gue"
"Hahaha, nggak lah. Kenalin nama gue kuro" ucapnya sambil mengajak bersalaman.
"Gue irgi" balas irgi sambil menyambut salaman tangannya.
"Oh iya, kata lo tadi di depan gue ada cewek yang hobinya ngebuat orang lain tersenyum? Kenalin dong sama gue"
"Uma" panggil irgi.
"Iyaa?"
"Ini ada yang ngajak kamu kenalan"
"Hei gue kuro" cara berkenalannya sama seperti tadi, sambil mengajak bersalaman.
"Gue uma, salam kenal" balas uma sambil menyambut tangan kuro dan diiringi dengan kontak mata berekspresi tersenyum.
Kuro pun ikut tersenyum melihat senyum uma dan kemudian berkata, "benar dua jago bikin orang lain senyum"
BAB 5
Hari ini adalah hari kedua irgi dan uma bersekolah. Kursi yang berada di samping uma masih belum ada yang menempati. Uma berharap ada siswi yang datang dan duduk di sampingnya agar dia bisa mengobrol.
Di hari kedua ini, pertemanan antara irgi dan kuro sudah lebih dekat, dan hari ini kuro bercerita kepada irgi sekaligus memberi nasihat dan masukan tentang persahabatan.
Saat irgi dan kuro mengobrol, untungnya uma sedang mendengarkan lagu menggunakan earphone.
"Dia perempuan, lo laki-laki. Dan lo bilang, lo sahabatan sama dia? Haha mustahil" kuro tidak percaya dengan status hubungan antara irgi dan uma.
"Kenapa mustahil?"
"Persahabatan tidak diciptakan untuk laki-laki dan perempuan. Percayalah!"
"Kenapa begitu? Due seneng kok punya sahabat kaya uma"
"Begini gi, persahabatan lawan jenis bakalan samgat sulit bertahan. Karena seringkali terakhir dengan salah satu lihak yang jatuh cinta. Gue yakin antara lo dan uma pasti udah ada perasaan cinta" jelas kudo dengan pede nya.
Irgi mendelik bingung, dia berpikir tentang perasaannya yang lebih dalam kepada uma.
"Lo lernah suka kan sama uma?" Tanya kurk dengan ekspresi seperti mengintrogasi. "Apalagi uma itu cantik, pintar, wangi, kriteria gua banget gi" lanjutnya.
"Gue nggak tau ro, gue masih bingung tentang perasaan gue sama uma. Menurut gue, uma itu apa ya? Dia leboh dari sahabat..." belum selesai irgi berbicara kuro memotong .
"Nih bener kan? Lo pengen nganggep dia lebih dari sahabat"
"Dengerin gue dulu ro" kata irgi. "setiap hari gue sama uma selalu sama-sama. Kita tumbuh bersama, kita tinggal di kawasan perumahan yang sama. Dia bikin gue nyaman dengan kehadiran dia, dengan perlakuan dia. Ketika dirinya jauh dari gue, gue sama dia selalu bertukar kabar dan komunikasi nggak pernah putus. Satu lagi, gue selalu mengirimkan pesan sama dia jaga diri baik-baik"
"Sahabat kok romantis?" Ledek kuto. "Lo nyaman sama dia, karena lo nganggap semua perlakuan dia itu istimewa, atau dia nganggap lo sebagai orang yang istimewa? Kita nggak tau, tapi, kita akan tau setelah beberapa bulan atau beberapa tahun ke delan. Lihat aja, kalau hubungan persahabatan kalian udah mulai saling main hati, pasti akan ada kecanggungan di dalamnya. Percaya deh sama gue!"
Saat kuro berkata seperti itu, irgi berpikir sepertinya kuro sudah sangat berpengalaman dengan hal yang berbau persahabatan lawan jenis.
"Ro, kok kayaknya lo udah tau banget tentang hal kayak gini?"
"Iya, gue juga pernah kayak lo gi, punya sahabat perempuan. Tapi, sekarang kita ngejauh karena ada yang nggak beres mengenai perasaan"
"Kalau gue sih nggak bakal kayak gitu, hehe"
"Mudah-mudahana aja, walaupun terdengar mustahil" ucapan kiro terdengar seperti pesimis mengenai hubungan persahabatan irgi dan uma.
"Siapa nama sahabat perempuan lo?" Tanya irgi.
"Namanya shafa ayuma, dia suka bikin gue senyum, sama kaya uma yang bikin irgi senyum" jawab kuro dengan nada yang terdengar seperti sedih. Sepertinya dia sangat merindukan sahabatnya. "Dia pergi setelah gue nyatain perasaan ke dia. Dia pindah ke luar kota dengan alasan ayahnya di pindah tugaskan. Sebenarnya, gue juga nggak tau kita ngejauh karena perasaan yang udah beda atau karena takdir"
"Setelah dia pindah, emangnya lo nggak pernah sms atau telponan sama dia gitu?"
"Enggak. Dia pindah dan menghilang. Tapi, dia hilang meninggalkan gelang. Ini gue masih pake gelangnya, dan gue yakin dia juga masih memakainya" jawab kuro sambil menunjukkan gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Gelangnya sama?"
"Sama, dia sendiri yang buat" lanjut kuro. "Gue ke toilet dulu ya? Mules"
Kuro bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan irgi. Tapi, sebelum ke toilet dia berkata, "persahabatan sejati lawan jenis tidak akan pernah ada"
3 menit setelah kuro pergi, guru masuk ke kelas bersama seorang siswi yang cantik, berkulit putih, hidungnya mancung seperti keturunan blastera n antara asia timur dan eropa.
Siswi itu mengenalkan dirinya di depan kelas, "selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama aku shafa ayumna"
Mendengar nama tersebut, irgi menoleh kaget, dan pandangannya langsung mengarah ke pergelangan tangan siswi itu.
"Dia pakai gelang yang sama dengan kuro. Itu berarti...." guman irgi pelan.
Setelah perkenalan, siswi tersebut langsung mencari tempat duduk. Dia duduk di sebelah uma dan tepat di depan kuro.
"Heii namaku uma" kata uma sambil mengulurkan tangan.
"Kuro, cepetlah kembali. Sahabatmu disini" guman irgi seraya tersenyum.
BAB 6
"Hai namaku uma, aku murid baru disini"
"Bukankah kita semua murid baru?" Tanya shafa dengan ekspresi bingung.
"Dia sedang berusaha membuatmu tersenyum shafa" sahut irgi sok kenal.
"Kamu siapa?" Tanya shafa dengan halus.
"Gue irgi, sahabatnya uma"
"Kalian bersahabat? Serius? Emangnya bisa ya?"
"Iya bisa. Kalau kamu pikir enggak mungkin kamu yang salah pilih sahabat, atau sahabatmu aja yang baperan" jawab irgi.
"Kamu ngomongnya pakai gue-lo atau aku-kamu sih? Bingung" tanya shafa.
"Tergantung lawan bicaranya. Menyesuaikan aja" jawab irgi.
"Oh"
"Tapi kalau ngomong sama uma sebenarnya pakai aku-kamu, terus dia bilang kalau di sekolah pakai lo-gue aja"
"Nyaman enggak?"
"Enggak" jawab irgi terus terang.
"Yaudah, kalau nggak nyaman mah nggak usah"
"Tuh uma denger"
"Iya deh, terserah kamu aja" kata uma.
Di tengah obrolan mereka, kuro pun kembali ke kelas. Saat dia masuk kelas, betapa terkejutnya dia melihat seorang wanita yang dulu pernah begitu dekat dengan nya.
Shafa pun merasa begitu saat dia melihat kuro.
"Afa?" Begitulah cara kuro memanggil shafa.
"Buaya?" Dan begitulah cara shafa memanggil kuro.
"Dia kembali kuro" kata irgi kepada kuro.
"Aku tidak tau kamu sekolah di sini" shafa mulai berbicara.
"Sekarang kamu tau kan?"
"Iyaa"
"Senang?"
"Iya" jawab shafa dengan senyuman.
Saat shafa tersenyum, kuro pun ikut tersenyum.
"Aku rindu kamu buaya"
"Sama"
Hari ini mereka melepas rindu di kelas baru. Murid-murid yang lain hanya memperhatikan sekulas percakapan mereka.
"Katanya hubungan kalian jadi canggung dan menjauh karena persahabatan kalian udah main perasaan? Kok sekarang kalian malah kaya begini?" Tanya irgi penasaran.
"Irgi, canggung akan kalah dengan rindu" jawab kuro.
"Irgi, uma, kalian tau nggak? Dulu waktu SMP kelas 7, buaya pernah nyatain cinta sama aku. Tapi, sampai sekarang belum aku jawab" shafa bercerita singkat.
"Jahat kamu" repet uma.
"Hahaha lagian bilangnya sahabat tapi, ujung-ujungnya jatuh cinta" kata shafa dengan nada meledak.
"Dan sejak itu, aku memiliki prinsip kalau persahabatan lawan jenis yang murni tidak akan pernah ada" sahut kuro.
"Aku yakin, salah satu dari kalian pasti punya perasaan cinta" kata shafa kepada irgi dan uma.
Ketika shafa berkata seperti itu, irgi mengalihkan pembicaraan, "kenapa kuro dipanggil buaya?"
"Nama lengkap kuro kan kurokodil, dan itu bahasa inggrisnya buaya" jawab shafa.
"Namamu aneh kuro" kata uma.
"Ayahku suka buaya, tapi untungnya dia bukan lelaki buaya"
●●●●●
Singkat cerita, bel pulang sekolah telah berbunyi. Irgi dan uma pulang naik angkot, kuro pulang dengan motor sportnya dan shafa masih bingung mau pulang naik apa.
Ketika melihat hal itu, irgi mencoba merayu kuro agar shafa diajak pulang bersama. "Kuro, shafa ajak pulang bareng tuh!"
"Iya, kamu udah nggak canggung kan sama shafa?" Uma melanjutkan.
"Canggung sih nggak, cuma takut"
"Takut kenapa?"
"Takut dia udah punya pacar. Dia kan cantik, pastinya banyak yang mau sama dia"
"Tanya aja dulu" saran uma.
"Gimana nanyanya?"
"Ajak dia pulang bareng, kalau dia mau nanti kamu tanya di motor" jawab uma.
"Kalau dia nggak mau, kemungkinan udah punya" lanjut irgi.
"Hmmm oke"
Kuro pun langsung menuju parkiran dan menunggu shafa di depan gerbang.
Ketik sudah sampai gerbang, irgi dan uma izin untuk pulang duluan.
"Besok kabarin jawaban shafa ya?" Kata irgi sambil berjalan menjauh dari kuro.
"Oke"
Berapa menit menunggu, akhirnya orang yang kuro tunggu datang.
"Mau melakukan hal yang sama kaya dulu?" Tanya kuro kepada shafa.
"Hal apa?" Shafa bertanya kembali dengan halus.
"Pulabg bareng hehe, dulu naik sepeda sekarang naik motor" tawar kuro seraya tersenyum.
Shafa berpikir terlebih dahulu sebelum menerima tawaran kuro.
"Gimana?" Kuro bertanya lagi karena sudah tidak sabar menunggu jawaban shafa.
"Hmm boleh deh" shafa menerima tawaran kuro seraya tersenyum.
"Shafa naik me motor kuro, motor berjalan menembus angin senja menemani dua sahabat yang salah satunya telah luluh dalam rasa cinta.
Saat motor melewati jalanan yang di tepinya banyak siswa yang sedang berjalan dalah satu dari siswa tersebut berteriak.
"Sahabat kok romantis?" Teriak irgi dan kemudian shafa menengok ke mereka tanpa respon.
"Kata-kata itu kan buat uma" protes uma.
"Mereka juga berhak mendapatkan perkataan itu. Hahaha"
"Dia kembali kuro" kata irgi kepada kuro.
"Aku tidak tau kamu sekolah di sini" shafa mulai berbicara.
"Sekarang kamu tau kan?"
"Iyaa"
"Senang?"
"Iya" jawab shafa dengan senyuman.
Saat shafa tersenyum, kuro pun ikut tersenyum.
"Aku rindu kamu buaya"
"Sama"
Hari ini mereka melepas rindu di kelas baru. Murid-murid yang lain hanya memperhatikan sekulas percakapan mereka.
"Katanya hubungan kalian jadi canggung dan menjauh karena persahabatan kalian udah main perasaan? Kok sekarang kalian malah kaya begini?" Tanya irgi penasaran.
"Irgi, canggung akan kalah dengan rindu" jawab kuro.
"Irgi, uma, kalian tau nggak? Dulu waktu SMP kelas 7, buaya pernah nyatain cinta sama aku. Tapi, sampai sekarang belum aku jawab" shafa bercerita singkat.
"Jahat kamu" repet uma.
"Hahaha lagian bilangnya sahabat tapi, ujung-ujungnya jatuh cinta" kata shafa dengan nada meledak.
"Dan sejak itu, aku memiliki prinsip kalau persahabatan lawan jenis yang murni tidak akan pernah ada" sahut kuro.
"Aku yakin, salah satu dari kalian pasti punya perasaan cinta" kata shafa kepada irgi dan uma.
Ketika shafa berkata seperti itu, irgi mengalihkan pembicaraan, "kenapa kuro dipanggil buaya?"
"Nama lengkap kuro kan kurokodil, dan itu bahasa inggrisnya buaya" jawab shafa.
"Namamu aneh kuro" kata uma.
"Ayahku suka buaya, tapi untungnya dia bukan lelaki buaya"
●●●●●
Singkat cerita, bel pulang sekolah telah berbunyi. Irgi dan uma pulang naik angkot, kuro pulang dengan motor sportnya dan shafa masih bingung mau pulang naik apa.
Ketika melihat hal itu, irgi mencoba merayu kuro agar shafa diajak pulang bersama. "Kuro, shafa ajak pulang bareng tuh!"
"Iya, kamu udah nggak canggung kan sama shafa?" Uma melanjutkan.
"Canggung sih nggak, cuma takut"
"Takut kenapa?"
"Takut dia udah punya pacar. Dia kan cantik, pastinya banyak yang mau sama dia"
"Tanya aja dulu" saran uma.
"Gimana nanyanya?"
"Ajak dia pulang bareng, kalau dia mau nanti kamu tanya di motor" jawab uma.
"Kalau dia nggak mau, kemungkinan udah punya" lanjut irgi.
"Hmmm oke"
Kuro pun langsung menuju parkiran dan menunggu shafa di depan gerbang.
Ketik sudah sampai gerbang, irgi dan uma izin untuk pulang duluan.
"Besok kabarin jawaban shafa ya?" Kata irgi sambil berjalan menjauh dari kuro.
"Oke"
Berapa menit menunggu, akhirnya orang yang kuro tunggu datang.
"Mau melakukan hal yang sama kaya dulu?" Tanya kuro kepada shafa.
"Hal apa?" Shafa bertanya kembali dengan halus.
"Pulabg bareng hehe, dulu naik sepeda sekarang naik motor" tawar kuro seraya tersenyum.
Shafa berpikir terlebih dahulu sebelum menerima tawaran kuro.
"Gimana?" Kuro bertanya lagi karena sudah tidak sabar menunggu jawaban shafa.
"Hmm boleh deh" shafa menerima tawaran kuro seraya tersenyum.
"Shafa naik me motor kuro, motor berjalan menembus angin senja menemani dua sahabat yang salah satunya telah luluh dalam rasa cinta.
Saat motor melewati jalanan yang di tepinya banyak siswa yang sedang berjalan dalah satu dari siswa tersebut berteriak.
"Sahabat kok romantis?" Teriak irgi dan kemudian shafa menengok ke mereka tanpa respon.
"Kata-kata itu kan buat uma" protes uma.
"Mereka juga berhak mendapatkan perkataan itu. Hahaha"
BAB 7
Malam telah tiba, irgi sendiri dirumah. Paman ata memang jarang pulang, dan tante heni katanya malam ini akan menginap di rumah temannya.
Irgi tidak benar-benar sendiri, dia bersama seekor kucing yang ia beri nama pau.
Irgi dan pau duduk di teras belakang rumah sambil menatap bintang yang berkelap-kelip indah.
Malam iyu malam minggu, kebetulan cuacanya sedang cerah. Seraya menatap langit, irgi mengeluh, berbicara kepada kucingnya mengenai apa yang dia rasa di malam berbintang itu, "pau, begini amat ya nasib jomblo kalau malam minggu"
Pau hanya menatap wajah irgi tanpa berkata apapun. Mendengarkan curhatan majikannya yang jomblo dan kesepian.
"Pau, uma aku suruh ke sini aja kali ya?"
"Meong" jawab kucing itu dengan jantan.
"Yeh, giliran ngomongin uma nyaut, dasar kucing genit" omel irgi.
Irgi masuk ke dalam lalu menelepon uma agar datang ke rumahnya. "Ke rumah cepet! Aku kesepian" hanya seperti itu saja, dan irgi menutupnya sebelum uma membalas perintahnya.
Beberapa menit kemudian, uma datang. Dia ke rumah irgi mengenakan kaos lengan pendek berwarna merah dengan gambar karakter elmo dan celana pendek.
"Ada apa?" Tanya uma.
"Temenin, aku kesepian" jawab irgi.
"Kan ada pau"
"Pau juga kesepian" balas irgi. "Ke teras belakang aja yuk. Pau udah nunggu di sana"
"Kok pakai sarung?" Tanya uma sambil berjalan menuju teras belakang.
"Habis selat, kamu udah?"
"Lagi enggak"
●●●●●
Irgi dan uma duduk di kursi panjang yang berada di teras belakang rumah tante hesti. Pau duduk di pangkuan uma. Mereka bertiga menatap bintang sambil melahap cemilan yang disiapkan irgi sebelum uma datang.
Angin malam berhembus cukup kencang, dan dia meniup rambut uma dengan indah, membuat irgi terpesona dengan kecantikan uma.
"Tak sadar, bibirnya tersenyum tipis menatap wajah cantik sahabatnya itu. Wajahnya lebih menarik daripada bintang yang berkilauan di langit.
Uma menatap langit serasa mengelus bulu halus pau. Irgi melihat uma seperti bidadari yang penyayang terhadap segala sesuatu. Sepertinya, dia mulai jatuh cinta dengan sahabatnya.
Saking terpesonanya, irgi tidak sadar kalau dia sudah menatap wajah uma begitu lama dan uma pun menyadarinya.
"Hey, kamu kenapa?" Tanya uma dengan heran.
"E..enggak, kamu cantik aja malam ini" jawab irgi mengakhiri lamunannya.
"Cuma malam ini?"
"Setiap malam. Tidak. Setiap saat"
"Meong"
"Enak ya jadi pau?" Kata irgi.
"Enak kenapa?"
"Dipangku kamu, digendong kamu juga"
"Kamu mah berat gi"
"Haha iya" irgi tertawa.
"Bintangnya indah ya gi?" Tanya uma seraya menatap langit kembali.
"Lebih indah kamu" jawab irgi dalam batinnya.
"Kata kuro bumi itu datar" ucap uma.
"Ngaco si kuro, belajar dari mana dia?"
"Enggak tau tuh, terus aku jawab gini, bumi itu bulat, jika menurtumu dia datar, mungkin itu dada gebetanmu"
"Haha, terus dia jawab apa?" Tanya irgi.
"Dia diam"
"Eh, dimakan uma cemilannya, ada keripik jagung sama soft drink nih" suruh irgi.
"Tanganku banyak bulu si pau"
"Aku suapin, mau?"
"Mau" jawab uma seraya tersenyum manis.
Saat uma disuapin irgi, pau hanya melihat mereka dengan tatapan imutnya. Mungkin, di dalam hatinya pau berkata, "sahabat kok romantis?"
"Banyak nyamuk" kata uma sambil menepuk pahanya dan menggaruk betisnya yang gatal akibat digigit nyamuk.
Mendengar uma berkata seperti itu, irgi langsung melepas sarungnya dan memindahkan tubuh pau, dan menutup paha uma dengan sarungnya.
"Ini" ucap irgi seraya menutup bagian kaki uma.
"Terima kasih"
"Lain kali pake celana panjang ya?"
"Kenapa?"
"Karena bukan nyamuk aja yang nafsu sama paha kamu" jawab irgi sambil tersenyum dengan pipi yang memerah.
Mendengar jawaban irgi, uma agak malu. Ternyata, sadari tadi irgi nafsu dengan pahanya. Untungnya, irgi bukan lelaki mesum, dia bisa menahan nafsunya dan mengalihkannya dengan perhatian yang lain.
"Maaf irgi, lain kali aku akan pakai celana yang agak panjang"
"Ada apa?" Tanya uma.
"Temenin, aku kesepian" jawab irgi.
"Kan ada pau"
"Pau juga kesepian" balas irgi. "Ke teras belakang aja yuk. Pau udah nunggu di sana"
"Kok pakai sarung?" Tanya uma sambil berjalan menuju teras belakang.
"Habis selat, kamu udah?"
"Lagi enggak"
●●●●●
Irgi dan uma duduk di kursi panjang yang berada di teras belakang rumah tante hesti. Pau duduk di pangkuan uma. Mereka bertiga menatap bintang sambil melahap cemilan yang disiapkan irgi sebelum uma datang.
Angin malam berhembus cukup kencang, dan dia meniup rambut uma dengan indah, membuat irgi terpesona dengan kecantikan uma.
"Tak sadar, bibirnya tersenyum tipis menatap wajah cantik sahabatnya itu. Wajahnya lebih menarik daripada bintang yang berkilauan di langit.
Uma menatap langit serasa mengelus bulu halus pau. Irgi melihat uma seperti bidadari yang penyayang terhadap segala sesuatu. Sepertinya, dia mulai jatuh cinta dengan sahabatnya.
Saking terpesonanya, irgi tidak sadar kalau dia sudah menatap wajah uma begitu lama dan uma pun menyadarinya.
"Hey, kamu kenapa?" Tanya uma dengan heran.
"E..enggak, kamu cantik aja malam ini" jawab irgi mengakhiri lamunannya.
"Cuma malam ini?"
"Setiap malam. Tidak. Setiap saat"
"Meong"
"Enak ya jadi pau?" Kata irgi.
"Enak kenapa?"
"Dipangku kamu, digendong kamu juga"
"Kamu mah berat gi"
"Haha iya" irgi tertawa.
"Bintangnya indah ya gi?" Tanya uma seraya menatap langit kembali.
"Lebih indah kamu" jawab irgi dalam batinnya.
"Kata kuro bumi itu datar" ucap uma.
"Ngaco si kuro, belajar dari mana dia?"
"Enggak tau tuh, terus aku jawab gini, bumi itu bulat, jika menurtumu dia datar, mungkin itu dada gebetanmu"
"Haha, terus dia jawab apa?" Tanya irgi.
"Dia diam"
"Eh, dimakan uma cemilannya, ada keripik jagung sama soft drink nih" suruh irgi.
"Tanganku banyak bulu si pau"
"Aku suapin, mau?"
"Mau" jawab uma seraya tersenyum manis.
Saat uma disuapin irgi, pau hanya melihat mereka dengan tatapan imutnya. Mungkin, di dalam hatinya pau berkata, "sahabat kok romantis?"
"Banyak nyamuk" kata uma sambil menepuk pahanya dan menggaruk betisnya yang gatal akibat digigit nyamuk.
Mendengar uma berkata seperti itu, irgi langsung melepas sarungnya dan memindahkan tubuh pau, dan menutup paha uma dengan sarungnya.
"Ini" ucap irgi seraya menutup bagian kaki uma.
"Terima kasih"
"Lain kali pake celana panjang ya?"
"Kenapa?"
"Karena bukan nyamuk aja yang nafsu sama paha kamu" jawab irgi sambil tersenyum dengan pipi yang memerah.
Mendengar jawaban irgi, uma agak malu. Ternyata, sadari tadi irgi nafsu dengan pahanya. Untungnya, irgi bukan lelaki mesum, dia bisa menahan nafsunya dan mengalihkannya dengan perhatian yang lain.
"Maaf irgi, lain kali aku akan pakai celana yang agak panjang"
BAB 8
Hari ini ada tugas kelompok seni budaya. Tugasnya membuat gambar tiga dimensi.
Satu kelompok terdiri dari empat orang. Kelompok irgi terdiri dari irgi, kuro, shafa dan uma.
Sama seperti kelompok pada umumnya, mereka berdiskusi terlebih dahulu.
"Mau ngerjain kapan?" Tanya shafa.
"Pulang sekolah aja, free nih" jawab uma.
"Sama" irgi dan kuro menjawab secara berbarengan.
"Di rumah siapa?" Tanya irgi.
"Rumah buaya biasanya sepi" jawab shafa.
"Dari SMP kalo kerja kelompok di rumah gue mulu" keluh kuro kepada semuanya.
"Rumah kamu kan besar, adem, sepi lagi. Jadi, itu adalah pilihan yang paling tepat" balas shafa.
"Yaudah iya"
●●●●●
Bel pulang sekolah telah berbunyi, dan mereka berempat bersiap untuk pergi ke rumah kuro.
"Kalian naik apa?" Tanya shafa ke irgi dan uma.
"Aku bawa motor hari ini" jawab irgi. "Uma, tunggu di depan gerbang, ya? Aku ke parkiran dulu"
"Iya, ayo shafa"
"Irgi naik motor apa?" tanya shafa.
"Paling motor vespa punya pamannya" jawab uma.
Mereka pergi ke rumah kuro secara berpasang-pasangan. Irgi dengan uma, kuro dengan shafa.
"Kaya double date ya?" Teriak kuro di jalan kepada irgi.
"Emang double date" balas irgi.
"Aku kan bukan pacar kamu" kata uma.
"Pura-pura aja"
"Sampai kapan?"
"Sampai kamu lupa kalau cuma pura-pura" goda irgi kepada uma seraya tersenyum dan tetap fokus ke jalan.
Mendengar jawaban irgi, uma tersipu malu. Belakangan ini, irgi suka membuat uma merasa leleh dengan ucapannya. Sepertinya irgi sudah jatuh cinta dengan uma dan jangan sampai uma juga jatuh cinta dengan irgi.
Mereka sudah sampai di rumah kuro. Benar kata shafa, rumah kuro cukup besar. Memiliki dua lantai, sebuah taman yang ada di samping rumahnya, dan pos satpam yang nampak kosong.
"Motornya masukin aja ke garasi" kata kuro.
"Kok posnya kosong?" Tanya irgi.
"Satpam lagi cuti, istrinya melahirkan" jawab kuro. "Aku ke minimarket dulu ya, mau beli makanan"
"Nggak usah repot-repot ro, beliin aja yang banyak"
"Bacot lah gi, hahaha"
"Nggak disuruh masuk?" Tanya shafa.
"Oh iya, masuk aja, rumahku lagi kosong, ini kuncinya"
Shafa menerima kunci rumah kuro, dan mereka pun masuk ke dalam.
"Gi, mendingan lo temenin gue" ajak kuro.
"Manja lo, ke minimarket aja minta di temenin"
Selama irgi dan kuro ke minimarket, uma dan shafa menyiapkan alat-alat memggambar. Mereka memutuskan untuk menggambar di halaman belakang.
Di halaman belakang rumah kuro terdapat satu kolam renang dilengkapi dengan sebuah meja dan kursi yang cocok untuk bersantai.
"Disini aja enak" kata shafa sambil menaruh tasnya di salah satu kursi.
"Kamu pernah renang di sini?" Tanya uma.
"Belum, tapi aku udah pernah liat buaya renang"
"Kamu kenapa nggak panggil kuro aja sih? Ambigu tau jadinya"
"Hehehe nggak mau, susah, udah kebiasaan"
"Kamu seneng nggak punya sahabat cowok?" Tanya uma.
"Seneng kok, tspi konsekuensinya berat, jatuh cinta hehe" jawab shafa. "Buaya tuh udah jatuh cinta sama aku"
"Afa, menurut kamu, kira-kira irgi bakal kaya kuro nggak? Yang tiba-tiba nembak sahabatnya"
"Iya pasti" jawab shafa dengan sangat yakin.
"Hah kenapa?" Uma terlihat sedikit terkejut mendengar jawaban shafa.
"Irgi suka ngegombal atau ngerayu kamu nggak?"
"Iya sering"
"Nah, nggak salah lagi, berarti dia ufah jatuh cinta sama kamu" jelas shafa.
"Enggak ah. Irgi begitu cuma bercanda, biar obrolan kita nggak garing" bantah uma.
"Kalau memang itu bercanda, percayalah itu tidak benar-benar murni. Ada sedikit keseriusan disitu, aku yakin"
"Terus kalau misalnya irgi benar-benar nyatain cinta ke aku, aku harus jawab apa?" Tanya uma dengan kebingungan di hatinya.
"Itu urusanmu. Biar otak, hati, dan lisanmu sendiri yang menjawabnya"
BAB 9
Masih di tempat yang sama, sesj tanya jawab uma dan shafa masih berlangsung. Mereka melupakan tujuan utama ke rumah kuro.
Shafa berkata kepada uma dalam salah satu percakapannya "menurutku, mempunyai sahabat laki-laki itu tidak bisa sepenuhnya nyaman.
