Rabu, 20 Februari 2019

Sahabat kok romantis?

Cerita wattpad dari Mengkyass


BAB 1

21 Oktober 2000 adalah tanggal dimana banyakorang datang ke rumahku. Mereka datang bukan untuk bertamu, melainkan mengirimkan do'a dan surat yasin untuk ayah dan ibuku. Banyak sekali orang yang melayat pada saat itu, dan banyak orang yang berkata kepadaku dengan perkataan yang sama.

"Irgi, yang sabar ya, ikhlasin kepergian ayah dan ibumu" pada hari itu, aku mendengar perkataan tersebut hampir seratus kali. 

Aku muak mendengarnya, ingin rasanya teriak, tapi tidak bisa karena suaraku telah habis oleh tangis.

Saat orang-orang mulai meninggalkan rumahku untuk mengantarkan kedua orang tuaku ke tempat peristirahatan terakhirnya, aku tidak diperkenankan untuk ikut. Karena memang kondisiku tidak memungkinkan.

Satu hari sebelumnya kami mengalami kecelakaan. Mobil truk yang berjalan ugal-ugalan menyerempet mobil kami hingga terpental.

Ayahku meninggal di tempat, ibuku meninggal kerika perjalanan ke rumah sakit, dan sialnya aku tidak ikut bersama mereka. Aku ditinggal sendirian.

Aku selamat dengan banyak luka di tubuhku. Selain itu, aku mengalami patah kaki sebelah kiri dan gangguan penglihatan sementara.

•••••

Semenjak orang tuaku pergi aku tinggal bersama paman ata dan bibi hesti. Rumah orang tuaku disewakan ke orang lain. Seharusnya rumah itu dijual, tapi aku tidak setuju.

Paman dan bibi menggangap ku sebagai anak nya sendiri. Bibi tidak punya anak, dan memang tidak akan pernah. Karena rahim bibi telah diangkat karena suatu penyakit.

Bibi bercerita kepadaku, katanya, sebelum ada aku bibi pernah menggangap anak tetangganya seperti anaknya sendiri. Bibi suka membelikan dia makanan, boneka, dan boneka. Namanya Uma Natalya Putri.

Sore itu, aku diajak keluar rumah oleh bibiku. Aku naik kursi roda dan bibi yang mendorongnya. Dia mengajakku ke rumah tentangganya. Rumahnya tepat di depan rumah bibi.

Sore itu adalah sore yang indah. Sore dimana aku bertemu dengan gadis kecil yang memperkenalkan dirinya terlebih dahulu dengan mengulurkan tangan kepadaku.

Namanya uma, nama yang lucu bukan? Waktu itu aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena penglihatan ku masih kabur akibat kecelakaan.
Dia mengajakku bermain, tapi kala itu aku tidak menikmatinya. Aku sedang tidak mood, karena perasaanku masih penuh duka.

"Irgi kamu tau nggk? Aku suka bikin orang tersenyum, percaya deh" ucap uma dengn suara imut nya.

Aku hanya menanggapi  ucapan uma hanya dengan lirikan, mengisyaratkan bahwa aku sedikit percaya dengan ucapan nya.

"Kata bibi hesti, kamu punya masalah pengelihatan ya?" tanya uma.

"I..iya tapi, cuma seemntara aja kok"

"Kalau gitu, selama kamu punya masalah penglihatan, izinkan aku untuk menjadi matamu ya? aku janji aku akan selalu menuntunmu ke tempat yang indah. Kamu mau kan?"

Sepertinya, saat uma bicara begitu aku tersipu dan sedikit tersenyum. Pipiku memerah karena perkataannya. Benar-benar gadis kecil yang lucu.

"Asyik, irgi benar tersenyum kan? Aku suka bikin orang tersenyum hehehe" ucap uma dengan sangat bahagia. Dia seperti sangat puas saat aku menunjukkan senyumku.

•••••

Satu bulan kemudian, patah kaki yang aku alami mulai membaik. Aku mulai belum berjalan, belajar dengan penglihatan yang kurang jelas.

Tapi, untungnya ada uma yang bersedia menjadi mataku. Dia selalu merangkulku, menuntunku, dan membicarakan hal yang indah di telingaku.

Aku sangat bersyukur bisa bertemu dan mengenal uma. Gadis 4 tahun yang berhati malaikat.

Ternyata, ungkapan-ungkapan yang pernah aku baca, ada benarnya. Akan ada pelangi setelah hujan, akan ada tawa setelah air mata, akan ada kebahagiaan setelah kesulitan, dan ada hikmah di balik cobaan.


BAB 2

"Bibi, aku ingin melihat dunia dengan jelas" pinta irgi sewaktu dia masih duduk dikelas 6 SD.

Irgi bersekolah di sekolah luar biasa atau yang dijelas dengan SLB. Irgi di sekolahkan di sekolah tersebut oleh bibinya bukan tanpa alasan. Bibinya tidak mau jika irgi menjadi bahan ledekan jika nanti dia di sekolahkan di sekolah umum.

Suatu hari, irgi berbicara kepada bibinya kalau dia ingin segera dioperasi. Dia ingin sekali melihat dunia, melihat orang-orang, dan melihat sahabat kesayangannya yang jelas. Karena, selama hampir delapan tahun ini, semua yang dilihatnya hanyalah butiran buram.

"Bibi, aku sudah menabung cukup banyak, tapi, aku tidak tau uang tabunganku cukup atau tidak untuk melakukan operasu mataku" kata irgi.

"Bibi, bawa aku ke rumah sakit, operasi mataku, aku ingin sekolah di sekolah normal, aku ingin berteman dengan anak-anak normal. Kumohon bibi"

Irgi mengatakan itu dengan suara yang hampir menangis, membuat bibi hesti tidak tega mendengarnya.

"Iya nanti, sehabis kamu ujian nasional, paman sama bibi akan membawa kamu ke rumah sakit. Dan dengan izin tuhan, mudah-mudahan kamu bisa melihat dengan jelas lagi setelah di operasi" balas bibi hesti untuk menghibur hati irgi. "Dan simpan saja ya uang tabunganmu"

"Asyikk, sebentar lagi aku bisa melihat"

•••••

Operasi mata telah selesai dilakukan. Saatnya untuk membuka perban yang membalut kedua mata irgi. Dokter membuka perban itu secara perlahan.

Dan, saat perban itu sudah benar-benar terbuka, yang pertama kali irgi lihat dengan jelas adalah dua ciptaan tuhan yang paling hebat di matanya.

"Uma, bibi" kata irgi seraya tersenyum bahagia.

"Irgi" panggil bibi hesti dan kemudian dia memeluk irgi dengan erat.

Bibi hesti tak kuasa menahan air matanya. Dia begitu terharu melihat irgi yang kini sudah bisa melihat dengan jelas.

"Bibi, terimakasih" ucap irgi sambil meneteskan air mata di pelukan bibi hesti.

"Selamat ya irgi" kata uma dengan senyum manisnya.

"Uma, kamu cantik"

"Kamu, baru bisa melihat dengan jelas aja udah ngegombal" omel bibi hesti dengan sedikit senyuman.

"Hahaha" irgi tertawa.


BAB 3

Ini adalah kisah ketika irgi dan uma masih di kelas 3 SMP.

Waktu itu, di minggu pagi yang cerah, uma mengajak irgi untuk bersepeda berkeliling kompleks perumahan. Irgi tidak punya sepeda, jadi nanti irgi akan dibonceng oleh uma di jok belakang sepeda mininya.

Uma sangat suka bersepeda, menurutnya bersepeda adalah salah satu cara terbaik untuk membentuk lekuk tubuhnya agar terlihat seperti wanita ideal. Dan irgi setuju.

"Aku aja yang bonceng kamu" kata irgi.

"Yaudah, pelan-pelan ya? Kalau ada polisi tidur direm, jangan dibangunin"

"Iya bawell" jawab irgi dengan masa bodo.

Irgi mulai mengayuh sepeda, berjalan dengan santai sambil menikmati angin pagi yang begitu segar. Selagi irgi mengayuh, una terus mengajak bicara agar suasana diantara mereka tidak terasa sepi.

"Irgi"

"Hmm" sahut irgi sambil tetap fokus ke jalan.

"Aku boleh punya pacar enggak?" tanya uma yang bermaksud ingin menggoda irgi.

"Kamu kodein aku?"

"Dih bukan, ge-er banget sih. Aku kan nanya sama kamu, bukan kode"

"Oh kirain kode"

"Gimana boleh nggak?" uma bertanya lagi sambil senyum-senyum.

"Emangnya ada yang suka sama kamu?"

"Banyakk, kalau aku on facebook pasti ada banyak cowok yang ngechat aku" jawab uma.

"Ohh"

"Waktu itu, aku pernah upload foto bareng sama kamu, terus cowok-cowok pada tanya di komentar, itu pacar kamu?"

Belum selesai uma menyelesaikan pembicaraan, dengan sangat penasaran irgi memotong, "terus kamu jawab apa?"

"Ihh kepo" ledek uma.

"Aku ngebut ya?"

"Hahaha ngambek" uma tertawa. "Terus aku jawab bukan dan cowok-cowok itu ngebales oh kirain pacar"

"Harusnya jawab iya aja"

"Dih biar apa?"

"Biar mereka semua nyerah buat dapetin kamu, terus sisa aku deh. Otomatis aku yang menang"

"Kamu mah emang udah menang dari dulu, tapi sebagai sahabat" rayu uma dan kemudian dia melingkarkan lengan kanannya dipinggang irgi. "Aku sayang kamu" lanjutnya dengan suara yang pelan.

"Ngapain kamu lingkarkan lengan dipinggang aku? Aku kan enggak ngebut"

Uma tidak menjawab, dia mengabaikan pertanyaan irgi. Pembicaraan mereka selesai. Irgi tetap fokus menunggangi sepeda. Dan uma fokus menikmati sejuknya udara pagi dan segarnya angin yang meniup rambut indahnya.

•••••

20 menit kemudian, irgi lelah menggayuh sepeda, dan dia meminta uma untuk menggantikannya.

"Dikit lagi sampek di rumah juga" ucap uma seraya menukar posisi dengan irgi.

Sepeda kembali berjalan dan irgi mulai modus di jok belakang.

Irgi membalas perlakuan uma, dia juga mau melingkarkan lengannya di pinggang uma.

"Ehh" kata uma kaget "gelii"

"Gantian"

"Aku mah cewek, kamu nggak boleh pegang sembarangan, nggak enak juga dilihat orang-orang"

"Tapi aku enak"

"Kalau kamu cabul aku turunin nih" sergah uma.

"Iya iya maaf" irgi melepaskan pegangannya dari pinggang uma "ugh, dasar nggak asik"

"Kalau kamu rasa nggak asik, cari sahabat yang cabe-cabean aja sana biar bisa di pegang-pegang"

"Ihh, bukan gitu uma" ucap irgi dengan nada bersalah. Karena dia tau kalau uma sudah mulai ngambek.

"Kenapa sih cewek cepet banget ngambeknya?" Batin irgi.


BAB 4

Dari taman kanak-kanak, irgi dan uma tak pernah satu sekolah. Dan sekarang, mereka harus masuk sekolah menengah ke atas.

Bibi hesti merasa kalau waktu berlangsung begitu cepat, tak terasa keponakan yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri telah masuk jenjang akhir pendidikan formal.

Di SMA ini, akhirnya irgi merasakan satu sekolah dengan uma, bahkan satu kelas, dan lebih dari itu mereka satu meja.

Hari ini adalah hari pertama mereka di sekolah menengah ke atas, dan mereka belum mengenal seorang pun di kelas baru.

"Aku mau duduk sama cewek" kata uma.

"Emangnya kalau sama aku kenapa?" Tanya irgi.

"Bosen" jawabnya. "Dirumah sama kamu, masa di sekolah sama kamu lagi"

"Aku ngebosenin? Parah. Kata- kata kamu nyakitin"

"Yaelah cowok kok baperan" uma tidak perduli dengan irgi kali ini. Mungkin, ini yang pertama kali.

"Kamu berubah uma" ucap irgi seraya bangun dari tempat duduknya.

Irgi pindah, namun, dia dia duduk tak jauh dari uma. Posisi duduknya tepat dibelakang uma.

"Aku disini" kata irgi dan dia mulai duduk ditempat barunya.

"Yaudah" jawab uma. Tetapi setelah itu, dia mendekat ke irgi dan berkata "kalau disekolah kita ngomongnya pakek lo-gue aja"

Uma duduk sendiri, belum ada yang mengisi kursi kosong disampingnya. Berbeda dengan irgi, dia duduk dengan seorang pria berkacamata dengan hidung mancung dan berbibir tipis. Tampangnya lumayan tampan dan terlihat seperti orang yang pintar.

"Dari SMP mana?" Tanya irgi basa-basi.

"SMP nusa putra" jawabnya.

Jawaban lelaki itu begitu singkat. Pandangan pertama irgi mengenai orang yang duduk di sampingnya adalah dia orang yang awet bicara, dingin dan tertutup.

"Lo enggak mau ngobrol?" Irgi bertanya lagi. Dia berusaha mengajak orang yang duduk di sampingnya untuk bicara lebih banyak.

Lelaki itu hanya menanggapi dengan lirikan sinis. Sepertinya, dia merasa terganggu.

"Lo lagi kenapa? Ada masalah? Atau lagi kehilangan seseorang? Sifat lo kaya gue waktu kecil. Tapi, tenang aja di depan lo sekarang ada cewek yang hobinya itu ngebuat orang lain tersenyum" irgi berusaha lebih dekat dengan orang itu. Dia mulai berbicara, berbicara urusan hati.

Lelaki itu masih tidak menjawab, dia malah bangun dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan irgi.

"Siapa nama lelaki di samping lo?" Tanya uma pakai lo dan ini untuk pertama kalinya dia bicara dengan irgi menggunakan bahasa seperti itu.

"Kok kayaknya agak kasar ya kalau kamu ngomong pakai lo?"

"Udah biasain aja kalau di sekolah. Nanti kalau di rumah kita pakek aku kamu lagi kok" jawab uma seraya tersenyum.

"Akhirnya kamu senyum sama aku..ehh...gue" balas irgi. "Aneh ya? Nggam bisa cara ngomongnya hehe"

"Siapa nama cowok tadi?" Uma bertanya lagi.

"Nggak tau, dingin banget dia. Lo suka?"

"Kalau suka kenapa? Cemburu?"

"Hehe" irgi hanya menjawab dengan cengiran, entah maksutnya apa.

10 menit kemudian, lelaki itu kembali dan duduk di tempatnya sambil berkata, "akhirnya lega"

"Lega kenapa?" Tanya irgi.

"Biasa panggilan alam" jawabnya sambil tersenyum.

"Oh, lo tadi nahan boker? Gue kira lo orangnya judes dan nggak nyaman sama gue"

"Hahaha, nggak lah. Kenalin nama gue kuro" ucapnya sambil mengajak bersalaman.

"Gue irgi" balas irgi sambil menyambut salaman tangannya.

"Oh iya, kata lo tadi di depan gue ada cewek yang hobinya ngebuat orang lain tersenyum? Kenalin dong sama gue"

"Uma" panggil irgi.

"Iyaa?"

"Ini ada yang ngajak kamu kenalan"

"Hei gue kuro" cara berkenalannya sama seperti tadi, sambil mengajak bersalaman.

"Gue uma, salam kenal" balas uma sambil menyambut tangan kuro dan diiringi dengan kontak mata berekspresi tersenyum.

Kuro pun ikut tersenyum melihat senyum uma dan kemudian berkata, "benar dua jago bikin orang lain senyum"


BAB 5

Hari ini adalah hari kedua irgi dan uma bersekolah. Kursi yang berada di samping uma masih belum ada yang menempati. Uma berharap ada siswi yang datang dan duduk di sampingnya agar dia bisa mengobrol.

Di hari kedua ini, pertemanan antara irgi dan kuro sudah lebih dekat, dan hari ini kuro bercerita kepada irgi sekaligus memberi nasihat dan masukan tentang persahabatan.

Saat irgi dan kuro mengobrol, untungnya uma sedang mendengarkan lagu menggunakan earphone.

"Dia perempuan, lo laki-laki. Dan lo bilang, lo sahabatan sama dia? Haha mustahil" kuro tidak percaya dengan status hubungan antara irgi dan uma.

"Kenapa mustahil?"

"Persahabatan tidak diciptakan untuk laki-laki dan perempuan. Percayalah!"

"Kenapa begitu? Due seneng kok punya sahabat kaya uma"

"Begini gi, persahabatan lawan jenis bakalan samgat sulit bertahan. Karena seringkali terakhir dengan salah satu lihak yang jatuh cinta. Gue yakin antara lo dan uma pasti udah ada  perasaan cinta" jelas kudo dengan pede nya.

Irgi mendelik bingung, dia berpikir tentang perasaannya yang lebih dalam kepada uma.

"Lo lernah suka kan sama uma?" Tanya kurk dengan ekspresi seperti mengintrogasi. "Apalagi uma itu cantik, pintar, wangi, kriteria gua banget gi" lanjutnya.

"Gue nggak tau ro, gue masih bingung tentang perasaan gue sama uma. Menurut gue, uma itu apa ya? Dia leboh dari sahabat..." belum selesai irgi berbicara kuro memotong .

"Nih bener kan? Lo pengen nganggep dia lebih dari sahabat"

"Dengerin gue dulu ro" kata irgi. "setiap hari gue sama uma selalu sama-sama. Kita tumbuh bersama, kita tinggal di kawasan perumahan yang sama. Dia bikin gue nyaman dengan kehadiran dia, dengan perlakuan dia. Ketika dirinya jauh dari gue, gue sama dia selalu bertukar kabar dan komunikasi nggak pernah putus. Satu lagi, gue selalu mengirimkan pesan sama dia jaga diri baik-baik"

"Sahabat kok romantis?" Ledek kuto. "Lo nyaman sama dia, karena lo nganggap semua perlakuan dia itu istimewa, atau dia nganggap lo sebagai orang yang istimewa? Kita nggak tau, tapi, kita akan tau setelah beberapa bulan atau beberapa tahun ke delan. Lihat aja, kalau hubungan persahabatan kalian udah mulai saling main hati, pasti akan ada kecanggungan di dalamnya. Percaya deh sama gue!"

Saat kuro berkata seperti itu, irgi berpikir sepertinya kuro sudah sangat berpengalaman dengan hal yang berbau persahabatan lawan jenis.

"Ro, kok kayaknya lo udah tau banget tentang hal kayak gini?"

"Iya, gue juga pernah kayak lo gi, punya sahabat perempuan. Tapi, sekarang kita ngejauh karena ada yang nggak beres mengenai perasaan"

"Kalau gue sih nggak bakal kayak gitu, hehe"

"Mudah-mudahana aja, walaupun terdengar mustahil" ucapan kiro terdengar seperti pesimis mengenai hubungan persahabatan irgi dan uma.

"Siapa nama sahabat perempuan lo?" Tanya irgi.

"Namanya shafa ayuma, dia suka bikin gue senyum, sama kaya uma yang bikin irgi senyum" jawab kuro dengan nada yang terdengar seperti sedih. Sepertinya dia sangat merindukan sahabatnya. "Dia pergi setelah gue nyatain perasaan ke dia. Dia pindah ke luar kota dengan alasan ayahnya di pindah tugaskan. Sebenarnya, gue juga nggak tau kita ngejauh karena perasaan yang udah beda atau karena takdir"

"Setelah dia pindah, emangnya lo nggak pernah sms atau telponan sama dia gitu?"

"Enggak. Dia pindah dan menghilang. Tapi, dia hilang meninggalkan gelang. Ini gue masih pake gelangnya, dan gue yakin dia juga masih memakainya" jawab kuro sambil menunjukkan gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Gelangnya sama?"

"Sama, dia sendiri yang buat" lanjut kuro. "Gue ke toilet dulu ya? Mules"

Kuro bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan irgi. Tapi, sebelum ke toilet dia berkata, "persahabatan sejati lawan jenis tidak akan pernah ada"

3 menit setelah kuro pergi, guru masuk ke kelas bersama seorang siswi yang cantik, berkulit putih, hidungnya mancung seperti keturunan blastera n antara asia timur dan eropa.

Siswi itu mengenalkan dirinya di depan kelas, "selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama aku shafa ayumna"

Mendengar nama tersebut, irgi menoleh kaget, dan pandangannya langsung mengarah ke pergelangan tangan siswi itu.

"Dia pakai gelang yang sama dengan kuro. Itu berarti...." guman irgi pelan.

Setelah perkenalan, siswi tersebut langsung mencari tempat duduk. Dia duduk di sebelah uma dan tepat di depan kuro.

"Heii namaku uma" kata uma sambil mengulurkan tangan.

"Kuro, cepetlah kembali. Sahabatmu disini" guman irgi seraya tersenyum.


BAB 6

"Hai namaku uma, aku murid baru disini" 

"Bukankah kita semua murid baru?" Tanya shafa dengan ekspresi bingung.

"Dia sedang berusaha membuatmu tersenyum shafa" sahut irgi sok kenal.

"Kamu siapa?" Tanya shafa dengan halus.

"Gue irgi, sahabatnya uma"

"Kalian bersahabat? Serius? Emangnya bisa ya?"

"Iya bisa. Kalau kamu pikir enggak mungkin kamu yang salah pilih sahabat, atau sahabatmu aja yang baperan" jawab irgi.

"Kamu ngomongnya pakai gue-lo atau aku-kamu sih? Bingung" tanya shafa.

"Tergantung lawan bicaranya. Menyesuaikan aja" jawab irgi.

"Oh"

"Tapi kalau ngomong sama uma sebenarnya pakai aku-kamu, terus dia bilang kalau di sekolah pakai lo-gue aja"

"Nyaman enggak?"

"Enggak" jawab irgi terus terang.

"Yaudah, kalau nggak nyaman mah nggak usah"

"Tuh uma denger"

"Iya deh, terserah kamu aja" kata uma.

Di tengah obrolan mereka, kuro pun kembali ke kelas. Saat dia masuk kelas, betapa terkejutnya dia melihat seorang wanita yang dulu pernah begitu dekat dengan nya.

Shafa pun merasa begitu saat dia melihat kuro.

"Afa?" Begitulah cara kuro memanggil shafa.

"Buaya?" Dan begitulah cara shafa memanggil kuro.

"Dia kembali kuro" kata irgi kepada kuro.

"Aku tidak tau kamu sekolah di sini" shafa mulai berbicara.

"Sekarang kamu tau kan?"

"Iyaa"

"Senang?"

"Iya" jawab shafa dengan senyuman.

Saat shafa tersenyum, kuro pun ikut tersenyum.

"Aku rindu kamu buaya"

"Sama"

Hari ini mereka melepas rindu di kelas baru. Murid-murid yang lain hanya memperhatikan sekulas percakapan mereka.

"Katanya hubungan kalian jadi canggung dan menjauh karena persahabatan kalian udah main perasaan? Kok sekarang kalian malah kaya begini?" Tanya irgi penasaran.

"Irgi, canggung akan kalah dengan rindu" jawab kuro.

"Irgi, uma, kalian tau nggak? Dulu waktu SMP kelas 7, buaya pernah nyatain cinta sama aku. Tapi, sampai sekarang belum aku jawab" shafa bercerita singkat.

"Jahat kamu" repet uma.

"Hahaha lagian bilangnya sahabat tapi, ujung-ujungnya jatuh cinta" kata shafa dengan nada meledak.

"Dan sejak itu, aku memiliki prinsip kalau persahabatan lawan jenis yang murni tidak akan pernah ada" sahut kuro.

"Aku yakin, salah satu dari kalian pasti punya perasaan cinta" kata shafa kepada irgi dan uma.

Ketika shafa berkata seperti itu, irgi mengalihkan pembicaraan, "kenapa kuro dipanggil buaya?"

"Nama lengkap kuro kan kurokodil, dan itu bahasa inggrisnya buaya" jawab shafa.

"Namamu aneh kuro" kata uma.

"Ayahku suka buaya, tapi untungnya dia bukan lelaki buaya"

●●●●●

Singkat cerita, bel pulang sekolah telah berbunyi. Irgi dan uma pulang naik angkot, kuro pulang dengan motor sportnya dan shafa masih bingung mau pulang naik apa.

Ketika melihat hal itu, irgi mencoba merayu kuro agar shafa diajak pulang bersama. "Kuro, shafa ajak pulang bareng tuh!"

"Iya, kamu udah nggak canggung kan sama shafa?" Uma melanjutkan.

"Canggung sih nggak, cuma takut"

"Takut kenapa?"

"Takut dia udah punya pacar. Dia kan cantik, pastinya banyak yang mau sama dia"

"Tanya aja dulu" saran uma.

"Gimana nanyanya?"

"Ajak dia pulang bareng, kalau dia mau nanti kamu tanya di motor" jawab uma.

"Kalau dia nggak mau, kemungkinan udah punya" lanjut irgi.

"Hmmm oke"

Kuro pun langsung menuju parkiran dan menunggu shafa di depan gerbang.

Ketik sudah sampai gerbang, irgi dan uma izin untuk pulang duluan.

"Besok kabarin jawaban shafa ya?" Kata irgi sambil berjalan menjauh dari kuro.

"Oke"

Berapa menit menunggu, akhirnya orang yang kuro tunggu datang.

"Mau melakukan hal yang sama kaya dulu?" Tanya kuro kepada shafa.

"Hal apa?" Shafa bertanya kembali dengan halus.

"Pulabg bareng hehe, dulu naik sepeda sekarang naik motor" tawar kuro seraya tersenyum.

Shafa berpikir terlebih dahulu sebelum menerima tawaran kuro.

"Gimana?" Kuro bertanya lagi karena sudah tidak sabar menunggu jawaban shafa.

"Hmm boleh deh" shafa menerima tawaran kuro seraya tersenyum.

"Shafa naik me motor kuro, motor berjalan menembus angin senja menemani dua sahabat yang salah satunya telah luluh dalam rasa cinta.

Saat motor melewati jalanan yang di tepinya banyak siswa yang sedang berjalan dalah satu dari siswa tersebut berteriak.

"Sahabat kok romantis?" Teriak irgi dan kemudian shafa menengok ke mereka tanpa respon.

"Kata-kata itu kan buat uma" protes uma.

"Mereka juga berhak mendapatkan perkataan itu. Hahaha"


BAB 7

Malam telah tiba, irgi sendiri dirumah. Paman ata memang jarang pulang, dan tante heni katanya malam ini akan menginap di rumah temannya.

Irgi tidak benar-benar sendiri, dia bersama seekor kucing yang ia beri nama pau.

Irgi dan pau duduk di teras belakang rumah sambil menatap bintang yang berkelap-kelip indah.

Malam iyu malam minggu, kebetulan cuacanya sedang cerah. Seraya menatap langit, irgi mengeluh, berbicara kepada kucingnya mengenai apa yang dia rasa di malam berbintang itu, "pau, begini amat ya nasib jomblo kalau malam minggu"

Pau hanya menatap wajah irgi tanpa berkata apapun. Mendengarkan curhatan majikannya yang jomblo dan kesepian.

"Pau, uma aku suruh ke sini aja kali ya?"

"Meong" jawab kucing itu dengan jantan.

"Yeh, giliran ngomongin uma nyaut, dasar kucing genit" omel irgi.

Irgi masuk ke dalam lalu menelepon uma agar datang ke rumahnya. "Ke rumah cepet! Aku kesepian" hanya seperti itu saja, dan irgi menutupnya sebelum uma membalas perintahnya.

Beberapa menit kemudian, uma datang. Dia ke rumah irgi mengenakan kaos lengan pendek berwarna merah dengan gambar karakter elmo dan celana pendek.

"Ada apa?" Tanya uma.

"Temenin, aku kesepian" jawab irgi.

"Kan ada pau"

"Pau juga kesepian" balas irgi. "Ke teras belakang aja yuk. Pau udah nunggu di sana"

"Kok pakai sarung?" Tanya uma sambil berjalan menuju teras belakang.

"Habis selat, kamu udah?"

"Lagi enggak"

●●●●●

Irgi dan uma duduk di kursi panjang yang berada di teras belakang rumah tante hesti. Pau duduk di pangkuan uma. Mereka bertiga menatap bintang sambil melahap cemilan yang disiapkan irgi sebelum uma datang.

Angin malam berhembus cukup kencang, dan dia meniup rambut uma dengan indah, membuat irgi terpesona dengan kecantikan uma.

"Tak sadar, bibirnya tersenyum tipis menatap wajah cantik sahabatnya itu. Wajahnya lebih menarik daripada bintang yang berkilauan di langit.

Uma menatap langit serasa mengelus bulu halus pau. Irgi melihat uma seperti bidadari yang penyayang terhadap segala sesuatu. Sepertinya, dia mulai jatuh cinta dengan sahabatnya.

Saking terpesonanya, irgi tidak sadar kalau dia sudah menatap wajah uma begitu lama dan uma pun menyadarinya.

"Hey, kamu kenapa?" Tanya uma dengan heran.

"E..enggak, kamu cantik aja malam ini" jawab irgi mengakhiri lamunannya.

"Cuma malam ini?"

"Setiap malam. Tidak. Setiap saat"

"Meong"

"Enak ya jadi pau?" Kata irgi.

"Enak kenapa?"

"Dipangku kamu, digendong kamu juga"

"Kamu mah berat gi"

"Haha iya" irgi tertawa.

"Bintangnya indah ya gi?" Tanya uma seraya menatap langit kembali.

"Lebih indah kamu" jawab irgi dalam batinnya.

"Kata kuro bumi itu datar" ucap uma.

"Ngaco si kuro, belajar dari mana dia?"

"Enggak tau tuh, terus aku jawab gini, bumi itu bulat, jika menurtumu dia datar, mungkin itu dada gebetanmu"

"Haha, terus dia jawab apa?" Tanya irgi.

"Dia diam"

"Eh, dimakan uma cemilannya, ada keripik jagung sama soft drink nih" suruh irgi.

"Tanganku banyak bulu si pau"

"Aku suapin, mau?"

"Mau" jawab uma seraya tersenyum manis.

Saat uma disuapin irgi, pau hanya melihat mereka dengan tatapan imutnya. Mungkin, di dalam hatinya pau berkata, "sahabat kok romantis?"

"Banyak nyamuk" kata uma sambil menepuk pahanya dan menggaruk betisnya yang gatal akibat digigit nyamuk.

Mendengar uma berkata seperti itu, irgi langsung melepas sarungnya dan memindahkan tubuh pau, dan menutup paha uma dengan sarungnya.

"Ini" ucap irgi seraya menutup bagian kaki uma.

"Terima kasih"

"Lain kali pake celana panjang ya?"

"Kenapa?"

"Karena bukan nyamuk aja yang nafsu sama paha kamu" jawab irgi sambil tersenyum dengan pipi yang memerah.

Mendengar jawaban irgi, uma agak malu. Ternyata, sadari tadi irgi nafsu dengan pahanya. Untungnya, irgi bukan lelaki mesum,  dia bisa menahan nafsunya dan mengalihkannya dengan perhatian yang lain.

"Maaf irgi, lain kali aku akan pakai celana yang agak panjang"


BAB 8

Hari ini ada tugas kelompok seni budaya. Tugasnya membuat gambar tiga dimensi.

Satu kelompok terdiri dari empat orang. Kelompok irgi terdiri dari irgi, kuro, shafa dan uma.

Sama seperti kelompok pada umumnya, mereka berdiskusi terlebih dahulu.

"Mau ngerjain kapan?" Tanya shafa.

"Pulang sekolah aja, free nih" jawab uma.

"Sama" irgi dan kuro menjawab secara berbarengan.

"Di rumah siapa?" Tanya irgi.

"Rumah buaya biasanya sepi" jawab shafa.

"Dari SMP kalo kerja kelompok di rumah gue mulu" keluh kuro kepada semuanya.

"Rumah kamu kan besar, adem, sepi lagi. Jadi, itu adalah pilihan yang paling tepat" balas shafa.

"Yaudah iya"

●●●●●

Bel pulang sekolah telah berbunyi, dan mereka berempat bersiap untuk pergi ke rumah kuro.

"Kalian naik apa?" Tanya shafa ke irgi dan uma.

"Aku bawa motor hari ini" jawab irgi. "Uma, tunggu di depan gerbang, ya? Aku ke parkiran dulu"

"Iya, ayo shafa"

"Irgi naik motor apa?" tanya shafa.

"Paling motor vespa punya pamannya" jawab uma.

Mereka pergi ke rumah kuro secara berpasang-pasangan. Irgi dengan uma, kuro dengan shafa.

"Kaya double date ya?" Teriak kuro di jalan kepada irgi.

"Emang double date" balas irgi.

"Aku kan bukan pacar kamu" kata uma.

"Pura-pura aja"

"Sampai kapan?"

"Sampai kamu lupa kalau cuma pura-pura" goda irgi kepada uma seraya tersenyum dan tetap fokus ke jalan.

Mendengar jawaban irgi, uma tersipu malu. Belakangan ini, irgi suka membuat uma merasa leleh dengan ucapannya. Sepertinya irgi sudah jatuh cinta dengan uma dan jangan sampai uma juga jatuh cinta dengan irgi.

Mereka sudah sampai di rumah kuro. Benar kata shafa, rumah kuro cukup besar. Memiliki dua lantai, sebuah taman yang ada di samping rumahnya, dan pos satpam yang nampak kosong.

"Motornya masukin aja ke garasi" kata kuro.

"Kok posnya kosong?" Tanya irgi.

"Satpam lagi cuti, istrinya melahirkan" jawab kuro. "Aku ke minimarket dulu ya, mau beli makanan"

"Nggak usah repot-repot ro, beliin aja yang banyak"

"Bacot lah gi, hahaha"

"Nggak disuruh masuk?" Tanya shafa.

"Oh iya, masuk aja, rumahku lagi kosong, ini kuncinya"

Shafa menerima kunci rumah kuro, dan mereka pun masuk ke dalam.

"Gi, mendingan lo temenin gue" ajak kuro.

"Manja lo, ke minimarket aja minta di temenin"

Selama irgi dan kuro ke minimarket, uma dan shafa menyiapkan alat-alat memggambar. Mereka memutuskan untuk menggambar di halaman belakang.

Di halaman belakang rumah kuro terdapat satu kolam renang dilengkapi dengan sebuah meja dan kursi yang cocok untuk bersantai.

"Disini aja enak" kata shafa sambil menaruh tasnya di salah satu kursi.

"Kamu pernah renang di sini?" Tanya uma.

"Belum, tapi aku udah pernah liat buaya renang"

"Kamu kenapa nggak panggil kuro aja sih? Ambigu tau jadinya"

"Hehehe nggak mau, susah, udah kebiasaan"

"Kamu seneng nggak punya sahabat cowok?" Tanya uma.

"Seneng kok, tspi konsekuensinya berat, jatuh cinta hehe" jawab shafa. "Buaya tuh udah jatuh cinta sama aku"

"Afa, menurut kamu, kira-kira irgi bakal kaya kuro nggak? Yang tiba-tiba nembak sahabatnya"

"Iya pasti" jawab shafa dengan sangat yakin.

"Hah kenapa?" Uma terlihat sedikit terkejut mendengar jawaban shafa.

"Irgi suka ngegombal atau ngerayu kamu nggak?"

"Iya sering"

"Nah, nggak salah lagi, berarti dia ufah jatuh cinta sama kamu" jelas shafa.

"Enggak ah. Irgi begitu cuma bercanda, biar obrolan kita nggak garing" bantah uma.

"Kalau memang itu bercanda, percayalah itu tidak benar-benar murni. Ada sedikit keseriusan disitu, aku yakin"

"Terus kalau misalnya irgi benar-benar nyatain cinta ke aku, aku harus jawab apa?" Tanya uma dengan kebingungan di hatinya.

"Itu urusanmu. Biar otak, hati, dan lisanmu sendiri yang menjawabnya"


BAB 9

Masih di tempat yang sama, sesj tanya jawab uma dan shafa masih berlangsung. Mereka melupakan tujuan utama ke rumah kuro.

Shafa berkata kepada uma dalam salah satu percakapannya "menurutku, mempunyai sahabat laki-laki itu tidak bisa sepenuhnya nyaman.















































Rabu, 30 Januari 2019

Kita halal

  cerita wattpad dari aaniitaa 123_


                                                                                PROLOG

Adiba Sakila Atmarina, yang biasa disapa diba atau adiba. Sekarang ia duduk dikelas 12 juruan MIA 1.

Saat pertama dirinya memasuki sekolah MAN ini, ada sesuatu hal yang membuatnya tertarik. Dia, ya dia kakak kelas 11 jurusan agama yang membuat diba tertarik. Dia beda, tak seperti teman-temannya yang suka bertengkar dia lebih memilih duduk di taman dan membuka sebuah buku kecil, mungkin itu adalah qur'an hafalan.

Dia ketua osis di sekolah bahkan dia juga ketua organisasi CSI atau Comunity Study Islamic dan dia juga sangat dibanggkan karena prestasi-prestasinya. Dari lomba debat bahasa arab, bahasa inggris, lomba tilawah.


BAB 1

"Cepetan dong bawa motornya bangg" ucap diba kepada kakak kandungnya.

"Yaelah dib, kan masih pagi banget nggk usah takut terlambat kamu" ucap atthar.

Atthar Mauza Satriya, lelaki berumur 20 tahun yang sebentar lagi akan menyandang gelar sanrjana itu adalah kakak kandungnya diba.

"Udah ah bangg, cepetannnn!" ucap diba.

"Iya bawell" ucap atthar.

Atthar membawanya motornya lebih cepat untuk mengantarkan adiknya ke sekolah.

"Jadi anak yang pinter ya di sekolah supaya bisa kayak abangmu ini" kekeh atthar.

"Iya bang diba sekolah dulu. Assalamualaikum" ucap diba sambil mencium tangan atthar.

"Waalaikumsalam" ucap atthar.

Wahh banyak juga yang udah disekolah, kirain aku doang yang datang di jam sepagi ini.

"Eh lo kelas 10 kan? pagi banget ke sekolah" tegur seseorang.

Diba tak tau siapa yang menegurnya kala itu, mungkin kakak kelasnya. Entah lah.

"Heyy, hello" ucapnya lagi.

"Iya" ucap diba.

"Lo kelas 10?"

"Iya aku kelas 10"

"Oke kenalin nama gw Althaf Rifqie Abrisam. Panggil aja althaf gw kakak kelas lo" ucapnya sambil menggulurkan tangannya.

Diba hanya menyambut ulurannya dengan menangkup tangan di depan dada.

"Salam kenal ka" ucap diba tersenyum.

"E...ee, nama lo siapa?" Tanya althaf.

"Adiba Shakila Atmarina, panggil adiba atau diba aja.

"Oke salam kenal dib"

"Gw mau kesana dulu ya, lo di sini aja jangan kemana-mana takutnya nyasar" sambungnya di sertai kekehan.

Diba hanya tersenyum mengiyakan.

Sekarang banyak siswa-siswi yang berdatangan ke sekolah ini. Tak lama acara ta'aruf sekolah pun di mulai.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh" ucap bapak kepala sekolah.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab semua siswa-siswi.

Bapak kepala sekolah menyampaikan beberapa peraturan di sekolah ini dan beliau menyampaikan teruntuk sisawa-siswi untuk melihat di mading sekolah dengan siapa nanti dia akan di bimbingsaat melakukan ta'aruf sekolah.

"Faham?" Tanya beliau.

"Fahammm" ucap semuanya.

Para siswa-siswi pun berlari menuju mading, diba juga mencari namanya secara teliti. Ahhh dapat!

"Athafariz Hizam Adnan Oktarian" guman diba sambil menunjuk sebuah nama.

Panjang sekali nama laki-laki ini.

Semua panitia osis mengangkat sebauh karton yang bertuliskan namanya.

"Kak Athafariz Hizam Adnan Oktarian ya?" Tanya diba pada laki-laki bertubuh tinggi itu.

"Iya panggil atha aja" ucapnya tak menatap diba sedikit pun.

Oke oke akan ku panggil atha saja.

"Oke semua sudah berkumpul?" Ucap atha.

"Sudahhh" ucap mereka yang akan di bimbing oleh atha, swmuanya terdiri dari 5 orang, 3 perempuan dan sisanya laki-laki.

"Baiklah perkenalkan nama saya Athafariz Hizam Adnan Oktarian kalian bisa panggil saya kak atha atau kak athafariz terserah kalian gimana enaknya. Nah jadi saya mau kenalan dulu dengan kalian karena tak kenal maka tak sayang" ucap atha tersenyum.

"Dari kamu yangpaling kecil" Ucapnya menunjuk diba.

Hei!aku itu nggk kecil ya!

"Nama saya Adiba Shakila Atmarina, panggil aja diba atau adiba. Terima kasih" ucap diba.

"Kamu" ucap atha menunjuk perempuan yang ada disebelah diba.

 "Nama saya Aisyah Nuha Zahira, panggil aja aisyah" ucapnya.

Setelah semua selesai perkenalan, diba dan teman-teman kelompoknya di suruh menggelilingi sekolah. Tentu saja dengan kak atha.

"Atha atha" panggil seseorang.

"Kenapa al? Ada masalah?" Tanya atha.

"Itu andi nampar syarif".

Eh ini kan si kak athaf? Eh althaf.

"Astagfirullah, kenapa lagi mereka. Kalian tunggu di sini aja dulu" ucap atha pergi meninggalkan diba dan teman-temannya.

"Adiba kamu cantik" tegur ufa, nama lengkapnya tadi jika tidak salah Ufairah Annisa.

"Semua perempuan itu cantik kok" ucap diba tersenyum.

"Kamu kaya orang arab yakan fa?" Tanya aisyah.

"Nah betul itu kamu punya keterunan arab ya?" Ucap ufa.

"Ada sih dari abiku"

"Eemmm maaf tadi saya meninggalkan kalian. Ada masalah sedikit. Eemm ayo kita keliling sekolah ta'aruf dulu biar kenal" ucap atha yang ada dibelakang mereka.

Mereka menggelilingi sekolah sambil mendengar penjelasan dari atha dia juga menceritakan masalah ekskul di sekolah ini tak hanya itu, dia juga menceritakan kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah ini.

"Nah ini taman sekolah kalian bisa beristirahat dulu" ucap atha.

Mereka pun duduk di taman, diba menatap atha yang sedang membaca buku kecil sambil komat kamit. Mungkin dia sedang hafalan.

"Eh dib, atha itu ganteng ya" ucap aisyah.

"Ganteng juga abang aku dari pada dia" kekeh diba, jujur sebenarnya yang dikatakan aisyah itu adalah suatu kebenaran.

"Oh kamu punya abang ya?" Tanya ufa.

"Iya punya"

Entah kenapa melihat wajahnya diba merasa tenang, wajahnya seperti tidak ada beban. Matanya yang sayu membuat kemanisannya tak pudar.

"Udah istirahatnya? Ayo kita lanjutkan perjalanan kita" ucap atha.

Diba dan yang lain mengikuti atha sampai pada akhirnya mereka sudah selesai menggelilingi sekolah besar ini.

"Oke! Terima kasih atas perhatiannya. Saya selaku ketua osis meminta maaf jika ada suatu hal yang tidak menyenangkan entah itu dari diri saya sendiri, atau dari pihak pihak panitia. Sekian summasalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh" ucap atha menutup ta'aruf sekolah itu.

Oh ketua osis to dia.

Sekarang waktunya jam pulang sekolah, atthar bilang katanya akan lama soalnya dia hari ini sidang skripsi.

Semangat abangkuu!! Keep hamasah!

"Belum pulang?" Tanya laki-laki yang berdiri disamping diba.

"Belum" jawab diba.

"Mau dianter pulang?"

"Gausah terima kasih ka"

"Yaudah aku duluan permisi, assalamualaikum. Ucap atha dan berlalu. Ya!yang bicara dengan diba adalah atha. Sangat singkat pembicaraan mereka.

"Doorr" ucap nya.

"Wahh astagfirullah abii" ucap diba terkejut.

"Hahaha santai aja kali, sampe manggil abinya"

"Kak althaf"

"Belum pulang?"

"Belum"

"Yaudah ayo pulang bareng"

"Ga ka, terima kasih"

"Yakin nih?"

"Yakin"

"Yakin?"

"Yakin kak Althaf Rifqie Abrisam"

"Wihh masih inget nama gw haha. Yaudah gw disini aja"

"Lah katanya mau pulang?"

"Ya nggk mungkin biarin cewek disini sendirian nanti diculik gimana? Kan mubazir"

"Mubazir emang aku makanan? Ka, aku bisa jaga diri sendiri kok. Udah sana kakak pulang"

"Oke kakak ganteng di usir. Oke gw cukup tau"

"King drama"

"Hah apa tadi?"

"Gapapa"

"Beneran ni nggk mau dianter?"

"Iya yakin kak"

"Yaudah gw duluan ya soalnya masih ada urusan. Jaga diri baik-baik ya" ucap althaf senyum lalu pergi.

Dasar aneh!

●●●●●

"Pagi hari bermula kini"

"Hidup aku menyumbang bakti"

Diba dan atthar menonton upin ipin diruang keluarga, dirumah cuma ada diba dan abangnya, orangtua mereka pergi kerumah paman karena bibi mereka sedang sakit. Sebenarnya mereka 3 saudara namun adik mereka seorang santri yang mewajibkan harus tinggal di pesantren.

"Huhh lelah aku bangg" ucap diba.

"Terpuluh puluh pun" ucap atthar duduk di samping diba.

"Gimana tadi sidang skripsi nya bangg?"

"Lancar donggg"

"Kamu gimana tadi ta'arufnya? Di terima cowoknya ga? Di terima orangtua sama keluarga besarnya ga? Kapan akad? Kapan resepsi?"

"Woyy bang, aku ta'aruf sekolah bukan ta'aruf buat nikah. Abang aja sana cari cewe buat nikah. Nikah muda ga masalahkan"

"Pengen nikah sih cumann.."

"Diba tau pasti ga ada calonnya yakan? Udah abang jadi jomblo aja dulu temenin diba"

"Adikku ini paling pekaaaa" ucap atthar mencubit pipi diba.

"Abang pasti belum bisa move on kann?"

"Apaan dahh gabisa move on"

"Gabisa move on dadi kakak reihana yakan? Jujur aja sama diba"

"Abang udah move on kok. buktinya abang baik-baik aja tanoa dia, biarkan abang berkelana bersama sang ilahi untuk mendapatkan jodoh yang sepadan dengan diri ini"

"Serah lu aja jomblo"

"Ke mall yuk dib?"

"Mall? Kuy kuy, diba ganti baju dulu yess"

"Pake baju couple belian ummi ya dib, biar dikira pasangan halal"

"Siapp abanggg" ucap diba kemudian berlari ke kamarnya.

Baju couple yang dibelikan umminya diba dan atthar berwarna pink baby. Diba memakai busana muslim dengan khimar yang senada begitu juga atthar cuman gamisnya doang warna baby pink celananya dia pakai celana jeans.

 "Berangkat?" Tanya atthar.

"Berangkattt" ucap diba.

Diba dan atthar memakai motor matic pergi ke mall.

"Eh bangg" ucap diba.

"Oh iya lupa abang" ucap atthar.

Atthar melepaskan helm dari kepala diba, ya seperti itu memang dirinya dengan atthar seperti pasangan halal pada umumnya tetapi mereka kakak adek ya.

"Kita ke transmart aja bang, naik rollercoaster" ajak diba.

"Mantepp!kebetulan abang bawa kamera vlog jadi bisa ngerekam gimana wajah kamu nanti" kekeh atthar.

"Abang terlaknat!"

Diba dan atthar menuju ke transmart dan tidak perlu waktu yang lama mereka sudah ada di rollercoaster.

"Huaaa takuttt" ucap diba padahal belum dimulai.

"Say hai dulu dib" ucap atthar mengarahkan kamera ke arah diba.

"Haii aku takutt sumpahhh"

"Padahal dia yang ngajak"

"Kan cuma ngajak"

Oke dalam hitungan ke dua akan dimulai. Yang pakek kerudung diikat kerudungnya dan tas silahkan letakkan di sebelah kiri

1
.
2
.
Mulai....

"Hahaha ngakak" ucap atthar melihat rekaman vidio saat mereka menaiki rollercoaster"

"Ihh abang hapus muka aku jelek banget tau" ucap diba.

"Gamauu sekarang kita naik paris swing dib" ajak atthar.

Oke! Sekarang diba dan atthar menaiki paris swing syukurlah permainan ini tidak sengeri rollercoaster tadi tapi cukup membuat kepala diba pusing.

"Diba?" ucapnya.

Diba membalikkan badannya untuk mencari sumber suara.

"Haii kak atha" ucap diba kikuk.

"Sama siapa?" Tanya atha.

"Sama abang tadi"

"Kak atha sama siapa?" Sambung diba.

"Oh sama temen-temen tadi.

"E..ee yaudah kak, aku mau kesana dulu. permisi, assalamualaikum" ucap diba meninggalkan atha.

"Waalaikum salam"

"Apaan tu bang?" tanya diba kepada atthar.

"Rujak harga 100rb" ucap atthar.

"Masya allah mahal sekali"

"Udah makan aja"

Setelah makan rujak diba dan atthar berfoto ria memakai camera vlog, dengan posisi diba menyandarkan kepala nya ke bahu atthar dan mata tertutup dan atthar posisi menatap ke arah diba.

Cekrekk...

Satu foto berhasil diabadikan.

"Pulang yok bang, cape" ajak diba.

"Yaudah,ayo" ucap atthar.

Diba dan atthar kembali ke rumah, atthar izin langsung ke kamar buat nyalin foto dari camera ke handphone dan mau mengedit vidio.

"Yaudah entar kirim ke diba foto sama vidio yang udah di edit" ucap diba.

"Siap dibb" ucap atthar.

Setelah 30 menit pesan dari atthar muncul yaitu ngirim vidio sama foto.

"Post yang ini ah di instagram" kekeh diba.

●●●●●

"Abangg" ucap diba sambil mengetuk pintu kamar atthar.

"Apa dib?" Ucap atthar membuka pintu.

"Diba minjam novel abang dong"

"Yaudah masuk cari aja mau yang mana"

Kamar bang atthar ini seperti perpustakaan karena banyak sekali novel diba saja kalah.

"Bang diba minjam buku ini ya" ucap diba menunjukkan buku berjudul khan separuh cinta.

"Yaudah pinjem aja" ucap atthar.

"Unch abangku ini memang abang yang sangat baik diduniaaa" ucap diba sambil memeluk atthar.

"Iya bawel" ucap atthar sambil mengelus rambut diba.

Diba sangat menyayangi atthar.

Semoga aku bisa mendapatkan imam sebaik kakak ku.


BAB 2

"Wahh dib ga nyangka kita satu kelas" ucap ufa.

"Iya aku juga ga nyangka" ucap diba.

"Jadi 3 serangkai deh kitaa" ucap aisyah.

Dikelas, sedang voting suara siapa yang jadi ketua kelas, wakil ketua kelas dan lainnya.

"Adiba aja jadi wakilnya" ucap aisyah dan ufa.

"Ishh apasih aku ga mau ah" ucap diba.

"Oke adiba jadi wakilnya" ucap guru yang notabe nya adalah wali kelas di kelas diba.

"Gara-gara kalian ini" ucap diba.

Hari ini adalah hari khusus perkenalan dan ada beberapa  jam kosong tanpa di masuki guru.

Kringg....

"Udah istirahat tuh, ke kantin yuk?" Ajak aisyah.

"Okee ayooo" ucap diba.

Diba dan kedua temannya menuju kantin.

"Yahh rame banget" ucap diba.

"Yaudah kalian duduk aja, kalian mau pesan apa? Biar aku pesenin" ucap ufa.

"Aku mau roti bakar coklat, tahu crispy rasa balado, pisang keju sama minumnya es coklat deh"

"Ampun dahh banyak banget pesen nya" ucap diba.

"Kamu apa syah?" Sambungnya.

"Samain kayak diba aja deh" ucap aisyah.

"Siyapp" ucap ufa langsung ikut berdesakan untuk memesan makanan, sedangkan diba dan aisyah mencari tempat duduk.

"Hallo diba" ucapnya beserta dua temannya di belakang.

"Hai kak" ucap diba tersenyum.

"Boleh gabung ga?"

"Gimana boleh ga syah?" Tanya diba sambil berbisik kepada aisyah.

"Iyain deh" sahut aisyah.

"Silahkan kak althaf" ucap diba.

"Yeah kita dibolehin cewek cantik untuk makan bersama" kekeh althaf sambil menyengol atha.

"Serah lu jomblo" ucap atha.

Ufa datang membawa makanan yang mereka pesan tadi.

"Haha demi kalian aku rela mencium berbagai aroma disana" ucap ufa tersimbah peluh.

"Aku ngakak" ucap diba tertawa.

"Sstt sudah makan makan" ucap aisyah yang langsung melahap makanan nya.

"Kenapa cewe selalu ga bisa nahan yabng namanya makanan?" Sindur althaf.

Diba langsung menatap althaf dengan intens.

"Karena makanan membuat perut mereka kenyang" ucap atha sambil memasukkan pentol ke mulutnya.

"Setujuu" ucap diba berserta teman-temannya dengan kompak.

●●●●●

"Diba,diba" panggilnya.

Diba membalikkan badan untuk mencari sumber suara.

"Kak zanu?" Tanya diba.

"Lo diba kan?"

"Nih ada surat buat lo" sambungnya.

"Hah dari siapa?" ucap diba sambil mengambil surat dari tangan zanu.

"Gatau baca aja, gw duluan ya" ucap zanu kemudian berlalu.

Baiklah surat ini akan ku baca dirumah nanti.

"Allo adek abang tersayang, lama kah sudah menunggu?" Tanya atthar dengan motor maticnya.

"Ga kok bang, ayok pulang" ucap diba sambil menaiki motor abang atthar.

Atthar bercerita disepanjang jalan. Katanya sih dia sedang mengagumi seseorang.

"Abang mau ngelamar dia dib" ucap atthar.

"Lamar aja bang kalo abang udah siap, nanti keburu yang lain" ucap diba.

"Entar malam abang mau bilang sama ummi sama abii. Mudah-mudahan direstui ya dib"

"Aminn, diba senang jika punya kakak ipar yang muslimah apalagi kaya kriteria abang tadi pakek cadar. Beuhh diba suka banget"

 Diba sangat bersyukur dilahirkan dari keluarga yang faham agama suatu nikmat yang sangat besar baginya. Diba tak pernah menemui fotonya waktu bayi tak memakai hijab, kata ayahnya memang mulai dari kecil sudah dibiasakan dan usaha tidak mengkhianati hasil, alhamdulillah diba memakai kudung sesuai syariat islam kemanapun pergi walaupun itu hanya duduk di depan rumah.

Sesampainya di rumah diba meminta izin kepada umminya untuk langsung ke kamar, entah kenapa hari ini badannya terasa sakit semua.

"oh iyaa suratt" guman diba kemudian langsung membuka tas miliknya.

Diba buka perlahan surat yang dibungkus oleh amplop putih polos. Dari siapa sih? Pake surat segala?

Untuk Adiba Shakila Atmarina

Assalamualaikum
Apa kabar dib?
Semoga kamu dalam lindungan allah ta'ala
Aku boleh jujur? 
Sejak pertama aku melihatmu aku sudah kagum, kenapa?
Karna kamu beda dengan perempuan kebanyakan, kamu cantik.
Ga hanya didalam diluar juga cantik.
Aku ingin mendekati kamu dib, tapi aku takut kamu menjauh.
Tapi tenang, aku ga bakalan deketin kamu kok.
Aku hanya ingin cinta ku seperti zulaikha dan nabi yusuf.
Saat zulaikha mengejar cinta yusuf, allah menjauhkan yusuf darinya. Namun, saat zulaikha mengejar cintanya allah, allah mendatangkan langsung yusuf kepada zulaikha.
Semoga kita nanti bertemu, salam:)
Oh ya, jangan cari identitas aku ya.

Dari: A

"Siapa ya" guman diba.

"Ah aku simpan aja buat kenang kenangan"

●●●●●

Abii, ummi, atthar, diba tengah berkumpul bersama diruang keluarga. Sesuai janjinya atthar ingin mengungkapkan keinginannya kepada orangtuanya.

"Ummi, abii. atthar suka sama seseorang nah atthar mau lamar dia" ucap atthar gugup.

"Sudah siap? Yakin?" Tanya husain selaku ayah atthar dan diba.

"Siapp bii"

"Yaudah kamu telfon dulu ayah perempuannya minta izin besok mau kerumah" ucap nadira selaku ibu atthar dan diba.

"Kawinn kawinn abang atthar mau kawinn" ucap diba terkekeh.

"Sstt orang lagi gugup juga" ucap atthar memanggil seseorang.

Wahh rupanya abang ku ini legend juga dia udah nyiapin nomor ayah dari perempuan yang dia suka.

"Assalamualaikum?"

"...."

"Saya Atthar Mauza Satriya, ingin melamar anak abii"

"...."

"Besok bisa bi?"

"...."

"Baik,terima kasih. Assalamualaikum"

"Gimana?" Tanya hisain.

Besok disuruh datang kerumahnya.

"Semoga allah merestui kalian" ucap nadira.

"Oke nanti waktu abang akad nikah diba pakai hastag #abangAttharGantiStatus" ucap diba.

"Nanti abang pakai hastag #kalauDibaKapanGantiStatus" kekeh atthar.

"Yeahh diba lamaa lagi lamaa"

Husain dan nadira hanya tertawa melihat kelakuan anak anaknya.

●●●●●

"Semangat abang" ucap diba.

"Iya doain aja dib" ucap atthar tetap fokus pada jalan.

Setelah mengatar diba kesekolah, husain nadira dan atthar berencana mau ke rumah calon istri atthar.

Uuu aku bakalan punya kakak cewe dong, pastinya ga nyeselin kayak bangg atthar!

"Diba pulang sama temen diba, jadi gausah dijemput" ucap diba kepada atthar di depan sekolah.

"Iya bawel. Doain abang ya, assalamualaikum" ucap atthar.

"Iya abangkuu, waalaikum salam"

Diba langsung menuju kelasnya, masih sepi. Yaiyalah sekarang masih terlalu pagi untuk kesekolah.

Diba menghampiri mejanya, ada sebuah kertas yang  di sana terlukis wajah diba memakai khimar dan mahkota.

Dari A

"A lagi. Eemm bagus banget lukisannya" ucap diba mengambil lukisan itu.

"Dari siapa tuh" ucap ufa dan aisyah dari belakang diba.

"Ngga tau aku"

"Dari pengagum rahasia kah?" Tanya aisyah.

"Alah mana ada yang mau jadi pengagum rahasiaku"

"Ga mungkin ga ada yang ga kagum sama diba ini" ucap ufa.

"Jangan memuji"

"Selamat pagi buat nona nona manis terutama buat kamu wahai diba yang termanis" ucap althaf di depan pintu kelas diba.

"Cieee" ucap ufa dan aisyah menyenggol tangan diba.

"Alaahh lo al, pagi-pagi udah goda cewe. Gw duluan ke kelas aja" ucap atha meninggalkan atthar.

"Woyy gw ditinggalin" ucap althaf.

"Gw ke kelas dulu ya nona nona" sambung althaf mengejar atha.

"Dasar aneh" lirih diba.

"Kamu disukai sama kak althaf ketua tim basket di sekolah kita dib" ucap aisyah antusias.

"Aku ga suka dan ga tertarik"

"Kenapa?" Tanya ufa.

"Aku suka laki-laki yang suatu hari bisa masukin hafalannya ke otakku bukan suatu hari masukin bola bakset ke dalam ring"

"Iya sih, tapi kalau kamu jodohnya kak althaf gimana?" Tanya aisyah.

"Perihal jodoh biar allah yang ngatur. Aku mau ke perpus dulu. Dahh assalamualaikum" ucap diba kemudian meninggalkan ufa dan aiiyah di kelas mereka.

"Diba itu udah cantik, penghafal quran, baik, pinter, ga sombong, rajin menabung, pinter, cantik, penghafal quran, baik, ga..."


"Kamu bicara apa lagi zikir sih syah?" Tanya ufa.

"Perasaan kata-katanya keulang gitu" ucap ufa.

"Hehehe aku sholawatan tadi fa" ucap aisyah cengar cengir sendiri.

●●●●●

"Duhh bukunya tinggi buangget"

"Eh lemari kok kamu tinggi banget? Kasihan aku yang badannya kecil"

"Nah lemari, coba kamy pikir gimana aku mau ambil buku perbandingan agama itu? Atau aku harus loncat loncat? Atau aku perlu nunggu pangeran ngambilin buku itu? Ayo jawab?" Ucap diba masih berbicara sendiri.

"Nih bukunya" ucap seseorang yang menyodorkan buku yang diba maksut.

"Kasihan kaya orang ngga waras bicara sendiri" sambungnya.

"Eh kak atha" ucap diba sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Ya allah diba maluu!!"

"Bukan salah lemarinya yang ketinggian salah kamu badan kekec.."

"Aku tau badan aku kecil kak. Ngomong-ngomong makasih banyak udah mau ngambilin bukunya" ucap diba memotong pembicaraan atha.

"Ya kecil, itu fakta" ucap atha tanpa menoleh ke diba sedikit pun.

Menyebalkan!

Hari ini semua berjalan dengan lancar, pembelajaran lancar, belanja dikantin lancar, gurunya lapar lancar otomatis jamkos juga lancar, alhamdulillah!

"Jadi kita kemana?" Tanya ufa.

"Kita ke toko buku dulu" ucap diba.

"Beli buku?" Tanya aisyah.

"Ga, beli baju pernikahan"

"Wihh ditoko buku ada jualan itu ya? Murah?" Tanya aisyah.

"Murah banget syah" ucap ufa.

"Aisyah yang namanya toko buku yakali jualan buku"

Diba, ufa dan aisyah memasuki toko buku. Diba berencana ingin membelikan buku cara membangun rumah tangga yang baik.

Hahaha aku ini adik paling peka di duniaa!!

"Mau beli buku apa emang?" Tanya aisyah.

"Adalah pokoknya" ucap diba.

"Eh syah ayo pulang" ucap ufa.

"Loh kenapa?"

"Ini ummi aisyah sama ummi aku lagi perlu bantuan deh kayaknya. Maaf ya dib jadi ngga bisa anter kamu pulang" ucap ufa.

"Yahh, yaudah. Hati-hati dijalan ya" ucap diba tersenyum.

Ufa dan aisyah meninggalkan diba ditoko buku ini. Atthar tidak bisa jemput, abinya pasti sibuk, umminya? Ngga mungkin. Selesai diba membayar buku, ia berjalan keluar dari toko ini.

Brukk.....

"Astagfirullah" ucap diba.

"Ya allah maaf dek ga liat" ucapnya.

"Iya gapapa" ucap diba sambil membereskan buku yang ia beli tadi.

"Diba?"

"Kak atha"

"Ngapain kamu disini?" Ucap diba dan atha bersamaan.

"Kamu aja duluan bicara" ucap atha.

"Ga ka. Eh aku mau pulang dulu. Permisi, assalamualikum" ucap diba kemudian berlalu dari hadapan atha.

Ya allah kenapa hamba mu ini selalu dipertemukan dengan orang itu

●●●●●

"Gimana bang, diterima ga lamarannya?" Tanya diba dikamar atthar sambil membaca buku yang ia beli tadi.

"Ta'aruf 3 hari dan selama 3 hari itu kami istokharah dulu dib" ucap atthar.

"Cie yang bentar lagi jadi suami" sambung diba.

"Ciee jadi jomblo satu satunya"

"Tunggu aja diba nanti nikah kok tapi nanti"

"Iya nanti, nunggu upin ipin lulus dari tadika mesra terus nunggu robot doraemon ada di sini"

"Jahatnya engkau wahai kakak ku tersayang yang sebentar lagi mau nikah dan ninggalin diriku yang malang"

"Sejak kapan kamu alay dib?"

"Semenjak aku diejek"

"Emang diejek apa?"

"Abangg, diba diejek. Kata kakak kelas diba ini kecil"

"Itu FAKTA" ucap atthar menekankan kata fakta

"Huh sama aja"

"Siapa yang mengejek kamu? Cowo cewe?"

"Cowok"

"Hayo, Hati-hati entar jatuh cinta"

"Jatuh cinta sebelum akad nikah itu ujian" ucap diba menyipitkan matanya.

"Yaudah suruh si cowo itu ngelamar kamu"

"Ihh gamau, kalo diba nikah sama dia nanti malah dibully teruss, iii gamau"

"Ga boleh gitu"

"Kalo jodoh ga kemana dib" ucap atthar lari meninggalkan diba dikamarnya sendirian.

"Dasar!! Ga abang atthar ga kak atha sama aja" dengus diba kesal.


BAB 3         

Hari ini adalah acara akadnya atthar dan calon isrtinya.

"Ya allah" guman atthar muter muter gajelas.

"Bang" tegur diba.

"Abang gugup dib" ucap atthar memegang kedua belah tangab diba yang munggil.

"Bawa seloww aja bangg, udah tuh diluar udah mau dimulai semangat"

Atthar menuju meja dan berhadapan langsung dengan ayah calon istrinya.

"Ya Atthar Mauza Satriya bin Muhammad Husein uzawwijuka ala ma amarollohu min imsakin bima'rufin au tasriihim bi ihsanin, ya Atthar mauza satriya bin Muhammad Husain anakahtuka wa jawwaj-tuka makhthubataka Khumaira Alifa Nabila bin Ahmad Zaini bi mahri mushaf al-quran wa alatil' ibadah halaan"

"Qobiltu nikaahahaa wa tajwiijahaa bilmahril madz-kuur haalan"

Alhamdulillah, dengan satu tarikan nafas atthar berhasil mengucapkan ikrar suci itu.

"Hallo nak" ucap seorang ibu cantik di belakang diba.

"Eh tante, mau ke depan?" Tanya diba.

"Ngga, kamu anak dari husain ya?"

"Inggih saya anak pak husain"

"Mana ibu nak?"

"Tadi ummi ada di belakang"

"Kamu cantik, percis seperti ibumu"

"Bunda..."

"Hizam sini nak" ucap beliau memanggil laki-laki yang namanya hizam.

"Siapa nama kamu nak?" Tanya ibu itu.

"Diba tante" ucap diba.

"Hizam udah kenal bun, dia adik kelas hizam di sekolah" ucap atha.

"Ya, atha!kalian terkejut? Huh apalagi diba.

Kenapa selalu bertemu dengan dia zabel dah princess.

"Okee! kalian ngobrol aja dulu. Bunda mau nyamperin nadira" ucap beliau.

"Oh jadi kamu anak om husain?" Tanya atha.

Diba hanya menggangukkan kepalanya sebab bingung. Masih memikirkan kenapa dirinya selalu bertemu dengan orang yang menyebalkan ini.

"Kaka kenapa jadi bisa kesini?" Tanya diba memberanikan diri.

"Ayah kita berteman" ucapnya tanpa menolah.

Uuuu ayah kita hahaha.

"Diba hanya diam"

"Oh ya bilangin sama bang atthar selamat udah ga jomblo lagi" ucapnya tersenyum.

Diba pengen ketawa tapi takut dosa hahaha. Diba kira dia hanya bisa nge bully orang rupanya asik juga.

"Satu lagi, jangan manggil mamaku pakek sebutan tante dia ga suka. Bunda atau mama aja" ucap atha.

"Emang kalo tante kenapa?" Tanya diba.

"Katanya terlalu tua dan sexy. Aku mau kesana, permisi. Assalamualaikum"

"Waalaikum salam"

Sexy? Ada ada aja.

Pernikahan atthar dan khumairah berjalan lancar. Khumaira yang memakai cadar putih senada dengan gaun pengantinnya. Polesan make up yang mempercantik dirinya.

"Kok teteh mau sama abang?" Tanya diba kepada khumaira di hadapan orangtua diba, atthar dan orangtua teh ara.

"Disantet ya? Sambungnya.

"Eh sembarangan kamu!" Ucap atthar melototi diba.

"Nohh hati-hati teh, ntar kali satu rumah kemungkinan daging teteh udah ga ada"

"Kenapa?" Tanya khumaira lembut.

"Tuh dimakan serigala" ucap diba menunjuk atthar.

Semua tertawa, diba merasakan seneng dengan situasi seperti ini. Ya walaupun aku berpisah sama atthar.

"Kirain teteh kamu pendiam ternyata pecicilan" ucap khumaira.

"Dia kalo sama atthar manja banget nak, jadi kamu jangan cemburu jika liat foto-foto diba sama atthar romantis kaya pasangan suami istri" kekeh nadira.

"Yeah ga bakalan diba deketin om om sudah beristri iwww" ucap diba.

"Gaada uang jajan selama satu bulan kedepan" ucap atthar.

"Yahh bang atthar" ucap diba. Ya diba mendapatkan uang jajan tambahan dari atthar walau tak terlalu banyak.

Atthar izin pamit pergi ke rumah istrinya. Sebelum atthar meninggalkan semua novelnya untuk diba, betapa senangnya hati dirinya dan meninggalkan kamera vlog nya untuk diba.

Dia bilang "kamar abang, kamera abang, buku-buku abang jaga dengan baik jangan sampai ada yang rusak. Abang titip ummi sayang abii" terus memeluk diba erat, tak diba sangka air matanya mengalir.

Aku tak mau pisah dengan laki-laki yang selalu melindungiku.

Dadah abang. Semoga sakinah mawaddah warohmah, ntar diba nyusul. Ntar tapi nya.

"Bi, berarti nanti yang antar diba sekolah siapa?" Tanya diba kepada husain.

"Abii udah beliin kamu motor nah jadi nanti kamu ke sekolah sendiri aja" ucap husain.

Motor? Ga sehat sekali.

"Emm yaudah deh bi diba izin ke kamar ya" ucap diba kemudian pergi ke kamarnya. Tepatnya kamar atthar.

●●●●●

"Ummi, abi diba berangkat ya. Assalamualaikum" ucap diba sambil mencium tangan orang tuanya.

"Iya nak, hati-hati gausah ngebut" ucap nadira.

"Habis sekolah langsung pulang" ucap husain.

"Siap komandan"

Diba menikmati pemandangan di setiap perjalanan nya. Bersholawat ria di motor biar ngga kesepian. Sesampainya di sekolah diba memarkir motornya di parkiran.

"Neng diba?" Tanya pak security itu.

"Eh iya pak sayang, kenapa?" Tanya diba sambil melepas helm.

"Ini dapat surat. Sudah ya neng bapak mau ke sana permisi" ucap beliau meninggalkan diba dengan sepucuk surat.

Selamat pagi di hari senin
Buat kamu yang selalu tersenyum menghilangkan rasa duka yang ada, selalu hadir di qolbu.
Menghibur hati di kala rindu,
Tunggu saja khitbah dari ku.
Untuk mu, dari pengagum rahasia mu.

Dari A

A?siapa kamu?

●●●●●

Diba hari ini pulang lebih sore karena ia mengikuti ekskul di sekolah. Diba mengikuti ekskul CSI atau Comunity Study Islamic.

"Nah jadi kegiatan pertama kita mau apa nih? Materi? Atau kegiatan lain?" Tanya atha. Yap! Atha dia adalah pecetus dan pemimpin dari organisasi ini. Keren!

"Penggalangan dana aja" ucap diba.

"Penggalangan dana?"

"Iya kak penggalangan dana buat lombok"

"Bisa tu ide yang bagus!"

"Baiklah nanti akan kita lanjutkan di grup ya, sekarang sudah sore waktunya pulang" sambung nya.

Diba dan teman teman yang lain pulang ke rumah masing-masing.

"Apa ini?" Guman diba mengambil sesuatu di box depan motor miliknya.

Mata,
Mungkin saja ia lupa siapa orang yang ia lihat.
Tapi hati?
Tak pernah lupa siapa orang yang ia cintai.

Dari A

Hmm hmm hmm-diba sabyan.

"Assalamualaikum" ucap diba. Memasuki rumah.

"Eh ummi abi mau kemana?" Sambungnya sambil menahan kedua orang tua nya itu.

"Paman mu masuk rumah sakit sayang. Nih jaga rumah ya" ucap nadira sambil mencium kening diba.

"Baiklah ummi, hati-hati di jalan"

Ya allah angkat penyakit paman hamba, beliau adalah orang yang baik selalu menghibur, memotivasi orang orang yang ada di sekitarnya.

Setelah selesai membersihkan diri disambung dengan solat maghrib karena sudah masuk waktunya.

"Astagfirullah" ucap diba menepuk jidat nya.

Diba langsung membuka handphone miliknya dan membuka grup Comunity Study Islamic. Rupanya sudah membagi tugas masing-masing dan diba? Dia di suruh membuat poster untuk nanti dan kebetulan diba di tunjuk sebagai wakil CSI pasti akan selalu bersama ketua, ya ketua yang menyebalkan!

Diba pun bersiap-siap memakai baju busana muslim berwarna navy senada dengan khimar nya, setelah izin dengan husain di telefon ia pun pergi ke sebuah tempat fotocopy.

"Cari apa neng?" Tanya nya.

"Karton warna biru muda sama hitam dan putih, spidol hitam, spidol merah, spidol biru, lem cair" ucap diba.

"Tunggu neng"

Setelah selesai membayar semuanya, diba langsung pulang ke rumah untuk mengerjakan semuanya.

"Oke mau dimulai dari mana?" Guman diba.

Setelah bergulat dengan gunting, lem, kertas-kertas akhirnya selesai juga tepat di jam 22.30 malam, syukur tadi sudah solat isya jadi langsung istirahat.

Diba berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, baru kemudian ia merebahkan tubuhnya.

"Selamat malam dunia" guman diba lalu memejamkan matanya.

●●●●●

Jam menunjukkan pukul 04.30, diba langsung mandi dan mengerjakan solat subuh sendirian. Ya sendirian, sama suami ntar.

"Huh ummi sama abi belum pulang?" Ucap diba.

Diba pun bersiap-siap pergi sekolah dan tak lupa ia membawa poster yang suduh dia bikin 3 jam leboh itu. Dirinya memakan roti dengan selai coklat di atasnya.

"Bizmillah..." ucap diba dan mulai pergi ke sekolah.

Hari ini tidak belajar bagi yang mengikuti kegiatan penggalangan dana. Jadi mereka membawa baju busana muslim berwarna hitam dan kerudung hitam.

"Semuanya sudah berkumpul?" Tanya atha.

"Apa aku terlambat?" Tanya fiba terengah engah, ia yang memakau baju hitam dan khimar palestina.

"Tidak, kamu datang tepat waktu" ucap atha dingin.

"Sini"

"Aku mau lihat poster yang kamu buat" ucap nya.

Diba pun menyerahkan poster yang ia buat itu, harap harap atha menyukai nya.

"Keren. Oke teman-teman ayo kita siap siap" ucap atha.

Diba memakai topi hitam yang di depannya bertuliskan kalimat tauhid. Diba dan yang lain pergi ke lampu merah untuk memintta penggalangan dana.

"Jangan berbisik, tampilkan yang terbaik. Buktikan islam agama yang damai" pesan atha kepada anggota nya.

"Siap!" Ucap mereka serentak, kemudian berpencar.

Diba mengetuk kaca mobil sedan yang di depan dirinya.

"Sumbangan nya pak" ucap diba ramah.

"Kamu muslin?" Tanya nya kepada diba.

"Inggih, saya muslim"

"Kamu cantuk sekali,saya heran kenapa wanita wanita muslim yang memakai tudung di kepala mereka terlihat cantik" ucapnya sambil memasukkan uang ke dalam kotak yang di pegang diba.

"Karena dalam islam  sangat memuliakan wanita pak. Terima kasih atas sumbangannya pak" ucap diba tersenyum.

Jam menunjukkan pukul 13.00, waktunya untuk melaksanakan solat zuhur. Setelah selesai solat semuanya berkumpul di taman masjid raya ini.

"Lelah ngga?" Tanya atha.

"Lelahh" ucap semuanya kecuali diba.

"Eh kecil kamu kenapa?" Tanya atha menatap diba diiringi tatapan yang lain.

"Maag ku kambuh" ucap diba memegangi perutnya.

"Bentar aku ambil di tas ku" ucap atha membuka tas nya dan mengeluarkan obat maag.

"Nihh" ucapnya sambil menyodorkan obat maag kepada diba.

Diba pun menguyah obat maag tadi.

"Okee teman-teman, terima kasih banyak atas partisipasi nya. Nanti biar aku sama diba yang hitung uang nya, kalian mau pulang silahkan" ucap atha.

Semuanya bergegas pulang menyisakan diba dan atha.

"Ngga makan ta?" Tanya atha.

"Udah, cuman pagi tadi makan roti aja" ucap diba.

"Belum makan siang?"

"Belom" ucap diba.

Hey! Apa dia berpikir? Aku sepanjang siang hanya di jalanan.

"Yasudah, ayo ke warung itu" ucap atha menunjuk sebuah warung makan.


BAB 4

"Pesan apa?" Tanya atha kepada diba.

"Nasi goreng sama es teh aja deh" ucap diba.

"Mbak nasi goreng 2 sama es teh nya 2 ya"

Yaelah ngikutin pesanan aku.

Tak lama datanglah pesanan atha dan diba. Tidak ada pembicaraan di antara mereka.

"Makasih banyak kak udah di traktir" ucap diba.

"Sama-sama kecil, pulang mau di anterin?" Tanya atha.

"Ga kak aku pesan gojek aja"

Atha hanya diam di samping diba, jujur dirinya rada risih dengab keadaan seperti ini.

"Kak ojek aku udah dateng, kakak ga pulang? Tanya diba.

"Oh udah dateng? Om bawa kurcaci ini hati-hati ya om" ucap atha terkekeh sambil bicara dengan ojek diba itu.

Heii! Kurcaci?

Atha pergi dengan motornya, sedangkan diba pulang dengan ojek itu.

"Makasih om" ucap diba di depan rumah.

"Sama-sama neng" ucap beliau tersenyum.

●●●●●

Sekarang sudah jam 09.30 malam, diba duduk di balkon kamarnya sambil membaca buku.

"Kaloo gini jadi kangen bang atthar" guman diba.

Tiba-tiba diba berlari ke kamarnya untuk mengambil kamera vlog milik atthar yang diwariskan untuk diba. Diba pun membuka foto-foto dan vidio-vidio mereka.

"Iiii menggelikkan" kekeh diba.

Semenjak atthar menikah, diba merasakan kesepian. Gaada teman buat curhat, gaada teman buat bertengkar.

"Sayang" ucap beliau.

"Eh ummi? Astagfirullah diba terkejut" ucap diba.

"Kenapa belum tidur? Duduk di balkon lagi ntar kamu sakit" tegur nadira.

"Ga ngantuk umm"

"Tidur gih, besok kesiangan loh" ucap nadira mengelus kepala diba yang tertutup hijab.

"Siap ummii" ucap diba dengan tangan yang bergaya hormat.

Nadira hanya tersenyum melihat sikap diba seperti itu. Kemudian beliau meninggalkan diba di balkon sendirian.

Kalo inget cerita atthar sama istrinya itu bikin diba iri.

"A" guman diba.

Ya, si 'A' siapa? Kenapa dia selalu mengirimi surat? Dari kelas mana dia?

Hei malam,
Bolehkah aku bertanya?
Tentang hati yang sedang dilema.
Aku tidak tau siapa dia,
Yang berkata ingin mengkhitbah ku suatu saat nanti.
Apa aku harus percaya?
Atau aku harus bersikap biasa saja?

"Ahhgg" ucap diba frustasi.

Diba kembali ke kamarnya dan merebahkan dirinya di ranjang. Menatap langit-langit kamar dengan sejuta angan-angan.

Akhirnya diba terlelap dalam tidurnya. Mimpi akan di mulai dan hari baru akan tiba.

●●●●●

"Diba berangkat umm,abii" ucap diba sambil mencium tangab kedua orang tuanya.

"Assalamualaikum" ucap diba kemudian melajukan kendaraannya dengan kecepatan rata-rata.

Sesampainya di sekolah, diba pergi ke kelas dan mendapati sahabat-sahabatnya ufa dan aisyah.

"Kenapa?" Tanya diba kebingungan.

"Ciee dapat suratt" ucap aisyah.

"Eh sini" ucap diba langsung mengambil surat yang berada di tangan aisyah.

Karena malu diba langsung pergi ke perpustakaan alasan ada buku yang dicari. Padahal gaada!

Diba mendapati di perpustakaan seseorang yang ia kenal sedang membaca qur'an dengan merdunya. Diba tatap dengan seksama, orang yang menyebalkan itu ternyata tampan juga.

"Ahh apasih dib" ucap diba menggeleng-gelengkan kepala nya.

"Kalo mau masuk masuk aja gausah sembunyi kayak maling" ucap seseorang di dalam perpus.

Mati! aku ketahuan kah?

Aku tercyydukkk

Diba memasuki perpustakaan dan langsung mencari buku. Ya ngga tau buku apa.

"Ngapain kamu sembunyi di situ?" Tanya atha.

"Ga sembunyi ko" ucap diba.

Atha mengangkat alisnya sebelah.

Diba langsung menghindar dari atha dan pergi meninggalkan perputakaan itu.

"Dibb" panggil nya.

"Kak althaf? Ada apa kak?" Tanya diba.

"Ahh gapapa cuma manggil aja kok"

Diba hanya ber-oh ria. Sepanjang perjalanan althaf mengikuti dirinya.

"Emm...katanya lo ikut ekskul CSI ya?" Tanya althaf.

Diba hanya mengganguk.

"Kenapa ga masuk yang lain aja?"

"Ga tertarik"

Diba tidak suka jika dirinya terlalu di ikuti seperti ini. Diba risih!

"Oh yaudah sih, nih gw cuma mau ngasih ini" ucap althaf sambil memberikan diba coklat.

"Ah tidak usah ka, makasih" ucap diba langsung memasuki kelas.

"Kenapa kamu?" Tanya ufa.

"Gapapa kok"

●●●●●

"Dahh, assalamualaikum" ucap diba pulang lebih dahulu.

Diba melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata. Sesampainya di rumah diba langsung ke kamar untuk berganti pakaian.

"Ummi, diba mau ke supermarket ya ada yang mau diba beli" ucap diba.

"Iya sayang, hati-hati" ucap nadira.

Diba pergi ke supermarket sendirian, iya sendirian, ntar sama suami. Diba membeli selai cokelat kacang, susu ultramilk rasa cokelat, dan beli cemilan lainnya.

Setelah selesai membayar belanjaan nya tadi, diba pergi ke tempat parkir.

Brrukk.....

"Astagfirullah de, maafin teteh" ucap nya.

"Gapapa teh, gaada yang rusak juga" ucap diba sambil memeriksa belanjaannya tadi.

"Kalo ada tang rusak biar teteh gantiin"

"Ah gausah teh ngerepotin, permisi teh"

●●●●●

"Assalamualaikum tante" ucap nya.

"Waalaikumsalam, maaf cari siapa nak?" Ucap nadira.

"Ada diba nya tan?"

"Oh kamu teman diba ya? Yaudah masuk dulu. Tadi diba nya ke supermarket.

"Inggih tan"

"Jangan panggil tante, ummi aja"

Althaf memasuki rumah diba, dia berada di belakang nadira, kemudian dia duduk di sofa.

"Ummi buatin minum ya nak. Tunggu aja diba nya paling bentar lagi pulang" ucap nadira.

"Siapp umm" ucap althaf.

"Assalamualai...kumm ummi" ucap diba terbata-bata.

Kak althaf? Ngapain ke sini?

"Waalaikumsalam, sayang ini ada teman kamu" ucap nadira sambil membawakan minum ke arah althaf.

"Ngapain ke sini?" Tanya diba kepada althaf setelah nadira pergi ke dapur.

"Ga boleh gitu silaturrahmi?" Tanya althaf.

"Boleh sih, cuman ya kan kaka sering ketemu sama aku di sekolah ga perlu juga datang ke sini"

"Gapapa kali mau silaturrahmi sama calon mertua"

Dasar lelaki gombal! Payah.

"Lo anak tunggal?"

"Punya kakak kok, tuh foto nya" ucap diba sambil menunjuk foto di dinding.

"Siapa tu cewe yang nyender sama dia?"

"Itu aku"

"Oh kamu, gajelas sih dari sini"

Rabun ya?

"Gw cuma mau ngasih ini nih, please terima yaaa" ucap althaf.

"Apa ini?" Tanya diba sambil membolak balikkan kotak yang diberikan althaf.

"Gw mau pulang, nah baru lo buka. Oke gw pulang ya"

"Ummi, althaf pulang ya nanti main ke sini lagi kok ntar bawa ayah sama bunda"

"Assalamualaikum diba" sambung althaf menatap diba.

Waalaikumussalam

Diba hanya menjawab dalam hatinya. Setelah althaf benar bener pergi ia langsung pergi ke kamar untuk membuka kotak pemberian althaf tadi.

"Mawar dan coklat?" Guman diba

"Aku ini mau nya di beri mahar dan di akad" sambungnya.

"Ciee dapat apa tuh" ucap nadira di ambang pintu.

"Nih umm, dapat mawar sama cokelat baut ummi"

"Eh ngga buat kamu?"

"Ngga umm, ini buat ummi" ucap diba memberikan mawar dan cokelat kepada nadira.

"Yasudah lah kalo memang buat ummi" ucap nadira pergi sambil membawa pemberian dari althaf.

●●●●●

"Di terima diba?" Tanya nya.

"Gw ngga nembak dia, dia sangar banget sih" ucap althaf.

"Al, cewe kaya dia tuh mau nya di halalin bukan di pacarin apalagi cuma mau di mainin"

"Ya ga mungkin kali gw halalin dia"

"Kenapa ga mungkin?"

"Gw aja belum kerja dan gw gatau dia suka sama siapa"

"Yaudah perjuangin lewat doa"

"Kalo ngga di satuin?"

"Mungkin ada yang lebih baik. Selalu husnudzhon sama allah"

Althaf meng-iyakan ucapan atha.

"Gimana nanti gw tunangan aja dulu sama diba?" Ucap althaf.

"Tunangan?" jawab atha.

"Iya ngga akad dulu hanya sebatas tukar cincin gitu"

"Hei bro, nikah itu bukan hal main-main. Kasian juga cewe ngga di beri kepastian" ucap atha menggeleng gelengkan kepala melihat kelakuan sahabt qarib nya itu.

"Cinta dalam diam aja bro, bawa selow lah" ucap atha.

"Lo enak orang yang lo suka dekat sama lo" ucap althaf.

"Haha terlalu dekat"

"Kapan lo mau ngasih tau orang yang lo suka? Mulai dari dulu ngga pernah pernah bilang sama gw.

"Nanti lah, lo tunggu tunangan nya aja"

"Yaudah cepet cepet nikah sono gw restuin dah"

"Mending main fifa aja al, bosen gw duduk di sini"

"Wihh tumben lo mau main playstatin, biasa juga nolak mentah-mentah"

"Cepetan sebelum gw berubah pikiran" ucap atha mendorong althaf.

●●●●●

"Ih soswet banget sih kak uni sama bang ilyas ini" kekeh diba sambil melihat video di akun instagram kak @unialfi.

Tokk...tokk...tokk

"Huaaaa abwangg" ucap diba berlari menuju ambang pintu untuk memeluk atthar.

"Alay" ucap atthar mengusap wajah diba dengan tangan nya.

"Jahatt bangett"

"Abang cuma bentar, nih mau ngasih oleh-oleh buat kamu" ucap atthar sambil menyerahkan sebuah bingkisan kepada diba.

"Apanih isinya?"

"Calon suami yang soleh. Yaudah sayang abang pulang ya assalamualaikum" ucap atthar mencium kening diba.

"Iya abang sayang waalaikumussalam"

Diba pun membuka bingkisan dari atthar dan ternyata sebuah buku. Buku yang berjudul menjadi istri yang sholehah.


BAB 5

Itu merupakan kejadian 2 tahun yang lalu, dimana diba masih kelas 10 dan sekarang? Ia sudah menduduki kelas 12 dan tepat hari ini adalah hari kelulusan nya.

"Tetap istiqomah ya dib" ucap aisyah memeluk diba di susul ufa.

"Bakalan kangen sama kaliaann" ucap diba membalas pelukan mereka.

"Tetap istiqomah sama cadarnya ya sayangg" ucap ufa.

Ya semenjak naik ke kelas 11 diba mulai istiqomah memakai cadar.

"Kalian juga tetep jaga solat 5 waktunya jangan sampai telat" ucap diba.

●●●●●

Pagi ini pagi pertama kali diba memasuki perkuliahan.

Gugup ya allah!

"Kamu tau ngga katanya presiden BEM kita masih gantengg dan muda" ucap mahasiswa baru di belakang diba.

"Wihh harus gw dapetin" sahut teman nya.

Setelah pembukaan ospek di mulai sekarang waktu nya istirahat, alhamdulillah bisa makan mulai tadi udah bunyi aja ni cacing di dalam perut.

Diba membawa nampan berisi makanan dan minuman, emm yummy!

Brukk....

"Astagfirullah" ucap diba terkejut sebab air minum nya mengenai cadar dan baju milik nya.

"Astagfirullah, maafin saya. Saya ga lihat" ucap nya.

"Iya gapapa" ucap diba sambil membereskan makanan yang berserakan.

"Sini saya bantu" ucap laki-laki itu membantu diba membereskan makanan itu.

"Gausah gausah udah beres" ucap diba kemudian berdiri.

Diba langsung meninggalkan laki-laki tadi. Bahkan tak sempat mematap mata nya.

Diba makan sambil menatap foto-foto kebersamaan nya dengan aisyah dan ufa. Rindu sekali! Alhamdulillah mereka sudah masuk ke universitas impian mereka.

"Lulus bersama dan sukses bersama" guman diba sambil menatap foto-foto sahabat nya.

"Permisi" ucap nya.

"Boleh saya makan di sini?" Tanya nya.

Diba menatap matanya.

Seperti nya aku kenal tapi? Tapi siapa?

"Silahkan" ucap diba membolehkan, terpaksa karena kantin sudah banyak pengunjung nya.

"Maaf jika saya menggangu makan siang mu"

"Kamu yang saya tabrak tadi kan? Maafkan saya ya" ucap nya.

Ya allah!

"Kak atha"? Ucap diba.

"Kamu kenal saya?" Tanya nya.

"Kamu kak atha kan?"

"Iya saya atha, tunggu-tunggu kamu kok kenal saya? Bukan kah kamu mahasiswa baru?

Mungkin sudah lama mereka tidak berjumpa dan ia tidak mengenali diba si wanita bercadar ini.

"Sudah saya mau makan" ucap diba mengalihakan pembicaraan.

Atha hanya kebingungan, siapa perempuan yang mengetahui namanya ini?

"Siapa nama kamu?" Tanya atha.

"Cari saja nama saya di jurusan pendidikan bahasa arab, saya permisi"  ucap atha meninggalkan atha sendirian di meja makan.

Hari ini masih belum memulai pelajaran. Jadi, diba  memilih untuk ke perpustakaan kampus ini.

 "Sudah hampir 3 tahun belakangan ini aku hanya tumbuh tinggi sedikit" dengus diba.

"Aku sangat perlu buku ituu" sambung nya.

"Nah" ucap nya sambil menyodorkan buku yang diba perlukan tadi.

"Gw ga nyangka bisa satu universitas lagi sama lo" sambung nya.

Heii! Lelaki ini?

"Kak althaf" ucap diba.

"Baguslah lo masih inget sama gw " ucap althaf tersenyum.

"Jadi kakak kulaih di sini juga? Sama kak atha?"

"Iya gw sama atha mutusin buat kuliah di sini. Dia jurusan tafsir hadis sedangkan gw jurusan fiqih"

"Hei broo berduaan terus dah lo sama cewe" kekeh nya.

"Eh atha, lo inget ga sama dia?" Tanya althaf menunjuk diba.

'"Siapa?" Tanya atha.

"Maafin atha dib, dia sekarang kebanyakan pikiran sampai lupa sama adik kelas nya sendiri" kekeh althaf.

"Dib? kamu diba?" Tanya atha.

Diba hanya menggangukkan kepala nya.

Woyy woyy selametin aku dari kakak cogan ini.

"Ya allah berarti kamu yang aku tabrak tadi? Kenapa ga bilang?" Ucap atha.

"Eh yaudah diba mau keluar, permisi assalamualaikum" ucap diba meninggalkan atha dan althaf.

Diba berjalan di karidor kampus untuk menuju taman yang berada di belakang kampus ini.

"Memang dunia ini sempit, ternyata aku satu universitas lagi dengan angkatan yang dulu" ucap diba.

"Andai aja ufa sama aisyah ada di sini pasti aku di ejek" sambung nya.

"Eh kecil" tegur nya.

Diba membalikkan badan nya untuk mencari sumber suara.

"Ga nyangka kamu kulaih satu universitas sama aku" kekeh nya.

"Kak atha, jangan panggil aku dengan gelaran itu lagi. Nanti aku di doain malaikat jadi kecil selama-lamanya loh gimana?" Ucap diba kesal.

"Biarin, biar kan ada yang sayangg"

"Iya orang tua aku yang sayang"

"Aku cuma mau minta nomor wa kamu kok"

"Buat apa?"

"Buat sharing-sharing"

Diba memberikan nomor wa nya kepada atha dengan syarat jangan chat diba kalo ga ada kepentingan sama sekali.

"Oke. aku mau kesana, permisi. Assalamualikum" ucap atha kemudian meninggalkan diba di taman"

Gaada ubah nya ya si kak atha tetep aja nyebelin! Tapi dia tambah ganteng sih.

●●●●●

"Azamm" ucap diba.

"Azaammmm"

"Apaa aa kuh sayangg" ucap azzam mentap diba, yap azzam dia adik diba yang duduk di bangku kelas 11 sma.

"Laperr"

"Makann"

"Beliin aa siomay ya?"

"Hmm yaudah beli berapa ribu?"

"10 ribu deh"

"Siapp aa kecil ku sayangg" ucap azzam berlari meninggalkan diba.

●●●●●

"Bangg siomay 10 ribu" ucap diba.

Ya, diba ga jadi nyuruh azzam sendirian membelikannya siomay. Diba ikut dengan nya!

"Kamu masih pacaran sama naya?" Tanya diba kepada azzam.

"Aku ga tau aa. Naya nya cuek sama aku dia lagi deket sama laki-laki lain" ucap azzam.

"Haha azzam, mending kamu putusin dia. Nanti kamu juga yang nyesel"

"Iya sihh"

"Kan ummi sama abii udah bilang, pacaran itu haram mau kepepet pun itu haram" ucap diba menekan kata haram.

"Yaudah azzam coba telfon naya dulu" ucap azzam sambil mengambil telpon nya.

"Hallo?"

"....."

"Maaf nay, maaf banget. Aku pengen kita udahan aja"

"....."

"Iya aku tau kita udah pacaran 5 tahun, tapi rasanya memang aku haru ninggalin kamu"

"....."

"Baik, ketemuan di cafe biasa aja"

Tutt....

"Makasih bang" ucap diba mengambil siomay miliknya.

"Naya ngajak ketemuan aa, mau minta penjelasan katanya" ucap azzam sambil memegang rambutnya.

"Yaudah aa temenin. Biar aa yang jelasin kenapa kamu jadi putusin dia" ucap diba memegang bahu azzam yang lebih tinggi dari dirinya.

Azzam tersenyum hangat kepada diba. Diba faham bagaimana rasanya patah hati, sangat sangat faham.

Sesampainya di cafe yang ingin di tuju, azzam.mencari keberadaan naya.

"Nah itu naya aa" ucap azzam menunjuk perempuan berambut curly.

"Yaudah ayo samperin" ucap diba yakin memegang tangan azzam.

"Hai nay" ucap azzam.

"Assalamualaikum naya" ucap diba.

"Eh ada kak diba, waalaikumussalam" ucap naya.

Diba dan azzam duduk bersebelahan, azzam sangat erat memegang tangan diba. Diba menatapnya yakin, jika kamu ninggalin sesuatu karena allah, yakinlah allah akan mengganti yang lebih baik dari pada sebelum nya.

"Yaudah kalian bicara aja" ucap diba memecahkan keheningan di antara mereka bertiga.

"Naya aku pengen putus" ucap azzam yakin.

"Apa alasan kamu mutusin hubungan kita selama 5 tahun ini zam?" Tanya naya.

"Aku ngga mau lagi terjebak lagi dengan hubungan yang tidak di restui allah ini"

"Kita tau pacaran itu haram kenapa kita tetap menghalalkan nya? Maafkan aku nay"

"Aa, ayo kita pulang" ucap azzam sambil menarik tangan diba untuk pulang.

"Kamu duluan zam" ucap diba.

Azzam hanya mengganguk dan pergi meninggalkan diba terlebih dahulu.

"Naya" ucap diba.

"Kaka, kaka pasti tau rasanya di tinggalin orang yang kita sayangkan?" Isak naya.

"Naya inilah kenapa allah mengharamkan yang nama nya pacaran. Ujung-ujungnya kayak gini patah kan rugi. Terutama pihak perempuan"

Naya menatap mata diba lekat, diba merasa kasian dengannya tapi tidak mungkin juga menyuruh azzam meneruskan hubungan yang sudah pasti tertulis di al-qur'an tentang keharaman nya.

"Kamu belajar, belajar berubah menjadi lebih baik lagi, jadi muslimah yang cantik" ucap diba.

"Yaudah, kaka pulang ya kemaleman ntar. Nanti kalo mau pulang hati-hati ya. Assalamualaikum" ucap diba.

"Iya kak waalaikumsalam" ucap naya menghapus air mata.

Diba pun pergi meninggalkan naya dan menghampiri azzam di parkiran.

"Ayo pulang" ucap diba.

Azzam hanya menggangukkan kepala, diba tau dia juga pasti sedih. Naya adalah seseorang yang sangat dia sayangi.

"Sabar aja zam, yang baik akan datang kok. Percaya sama janji allah" ucap diba.

Azzam tersenyum kepada diba, ah anak muda sekarang wkwk.

●●●●●

"Ummi, abii aa kuliah ya. Assalamualaikum" ucap diba setelah menyalami mereka.

"Iya waalaikumsalam aa, hati-hati ya" ucap nadira.

Diba pun pergi menuju kampus memakai motor scoopy miliknya. Ia lajukan dengan kecepatan rata-rata.

"Alhamdulillah sampai juga" ucap diba sambil melepas helm miliknya.

Dia berjalan santai di karidor sambil melihat mahasiswa berlalu lalang.

"Woyy" teriaknya.

"Astagfirullah" ucap diba mengelus dadanya.

"Kak althaf ih, suka banget ngagetin orang" ucap diba tanpa menatapnya sedikit pun.

"Hey ayolah dib, gw cuma bercanda kok" kekeh althaf.

"Hmm baiklah, diba mau masuk kelas" ucap diba meninggalkan althaf.

"Eh tinggu" ucap althaf mencegat diba.

"Kenapa kak?"

"Gapapa deh ga jadi, silahkan masuk ke kelas putri. Semangat belajar nya"

Diba hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan althaf.

Dasar aneh!

"Hai ukhti? Nama kamu siapa?" Ucap laki-laki memakai kacamata di samping diba.

Diba tak meresponnya, menurutnya ukhti itu untuk semua perempuan islam ga mesti memakai cadar atau memakai baju syar'i.

"Ukhti" ucap nya.

"Huhh heii kamu yang memakai cadar" sambung nya lagi.

Kali ini diba baru mentapnya.

"Anda manggil saya?" Tanya diba dingin.

"Iya siapa lagi?"

"Siapa nama kamu ukhti?" Sambung nya.

"Ismi adiba shakila atmarina, panggil aja adiba atau diba. Maaf sebelumnya, jangan memanggil ukhti untuk wanita bercadar aja. Ukhti itu panggilan buat saudara ku perempuan entah memakai cadar atau tidak"

"Nama ku muhammad akmal maulana, panggil aja akmal" ucap laki-laki berkacamata itu.

Diba hanya menggangukkan kepala. Dan kalian tau tak tau tak?

DOSEN NYA NGGA DATANG!!!

Killer banget dah. Diba pun meninggalkan kelas nya dan menuju taman. Ngga tau mau cari angin aja lah.

"Ekhemm" dehamnya.

"Dib" tegurnya.

Diba pun mengalihkan penglihatannya untuk menuju kepada sumber suara itu.

"Gw cuma mau ngasih surat ini" ucap akmal.

"Oh yaudah, makasih" ucap diba sambil mengambil surat yang ada di tangan akmal.

Akmal pun meninggalkan diba di taman, perlahan-lahan diba membuka surat itu.

Assalamualaikum diba? 
Semoga kamu selalu dalam lindungan allah
.
.
.
.

"Hah?" Ucap diba kaget.

"Ngga salah" sambung nya.


BAB 6
                              
"Hah?"

Aku terkejut mendapat surat yang mana si pengirim ingin mengkhitbah ku.

"Dari A? Siapa sih mulai dulu ga pernah ketemu dan ga pernah ke bongkar gitu" ucap ku.

●●●●●

Sore itu aku pulang ke rumah.

"Hah" ucap ku melongo di depan pintu.

"Eh aa, ayo duduk di sini" ucap abi.

"Om, tante kedatangan ke sini tak hanya mau silaturrahmi tetapi ingin melamar anak putri kalian" ucap atha.

Yes!atha

"Kami selaku orang tua selalu merestui, tapi semuanya tergantung diba" ucap abi.

"Aa gimana mau di terima?" Tanya abi kepada ku.

"Izinkan diba untuk beristikharah dulu bi" ucap diba menunduk.

"Apapun keputusan diba nanti, insya allah akan saya terima" ucap atha.

Woii woii jadi yang selama ini ngirim surat puitis itu kak atha? Wahh ga nyangka kirain althaf *ehh.

●●●●●

Detik demi detik berlalu, menit berubah menjadi jam, jam berubah menjadi hari. Sudah hampir satu minggu aku beristikharah.

"Aa, gimana lamaran atha di terima?" Tanya ummi.

"Insya allah jika allah mengizinkan diba menerima umm" ucap ku.

"Yaudah ntar ummi bilangin abi" ucap ummi tersenyum.

Aku berjalan di karidor kampus memakai baju busana muslim dengan warna baby pink dengan khimar + cadar yang senada.

"Hellowww nona" sapa nya.

Aku mempercepat langkah ku.

"Diba" panggil nya.

"Dibaaa"

"Masya allah sombongnya" ucap althaf.

Aku hanya terkekeh mendengar perkataan althaf. Aku hanya ingin menjaga perasaan calon suami ku, toh besok kami akan akad nikah. Doakan ya!

"Kay" ucap ku.

"Kaylaa"

"Apa sayang?" Ucap kayla, kayla nadira sahabat ku di kampus.

"Besok aku nikah hihihi" ucap ku berbisik kepada kayla.

Kayla langsung menutup mulutnya.

"Sudah besok datang ya ke rumah mau akad" ucap ku.

"Sama siapa?" Ucap kayla berbisik.

"Presiden BEM" ucap ku.

Kayla menatap ku tidak percaya. Presiden BEM? Yang tampan, tinggi, suara bagus, hafalan banyak? Uh beruntung sekali.

Ya allah,
Terima kasih sudah menghadirkan sesuatu yang aku bahkan tidak menyangka sama sekali
Lancarkan lah ya allah.

●●●●●

POV ATHA

Undangan yang tertera namaku dan nama diba sudah tersebar.

"Udah hafal belum tha ijab nya?" Tanya sahabatku, althaf.

Aku merasa bersalah telah menikung althaf. Tetapi, semua ini althaf juga yang menyuruh. Dan aku memang menyukai diba sejak awal masuk ke sekolah itu!

●●●●●

"Atha, ayo udah mau di mulai acara nya" ucap althaf.

"Maafin gw bro" ucap ku.

"Gw tau lo cinta dan suka sama dia dari dulu, gw yang salah. Gw ga peka sama sahabat gw sendiri" ucap althaf.

Aku tersenyum mendengar penuturan althaf. Aku berjalan menuju meja yang telah di sediakan. Keringat dingin membasahi wajah ku. Hati berdegup kencang saat melihat wajah laki-laki yang selama ini selalu menjaga diba.

"Ya athafariz hizam adnan oktarian bin muhammad adnan uzawwijuka ala ma amarollohu min imsakin bima'rufin au tasriihim bi ihsanin, ya athafariz hizam adnan oktarian bin muhammad adnan anakahtuka wa jawwaj-tuka makhthubataka adiba shakila atmarina binti muhammad husain bi mahri mushaf al-qur'an wa alatil ibadah halaan"

"Qobiltu nikaahahaa wa tajwijahaa bilmahril madz-kuur halaan"

Alhamdulillah.

POV DIBA

Alhamdulliah, dengan lancar dan lantang ia menjawab ijab qobul itu tanpa ada kesalahan.

"Ayo keluar suami kamu nunggu loh" ucap kaylaa.

Aku menatap kayla haru, aku berjalan memakai gaun putih lengkap dengan cadar yang senada untuk mendatangai suami ku.

"Selamat dek" tegur atthar, ya alhamdulillah abang bisa hadir ke acara luar biasa ini. Azzam? Sayangnya ia tidak bisa datang karena sedang pesantren, baru malam tadi kami telphonan dan dia menyesal tidak bisa hadir.

Aku menatap mata atha, mata yang menampilkan cinta yang tulus.

"Cium kening nya woyy cium" teriak seseorang, siapa lagi kalau bukan althaf.

"Kak althaf ni bisa aja" ucap ku terkekeh.

"Udah halal jugaa" ucap kayla menggoda ku.

Hampir 10 menit aku malu-malu dengan atha, akhirnya ia pun mencium kening ku. Ahh malu deh hihihi.

       ~TAMAT~